Sikap Anak Angkat Terhadap Ibu Angkatnya..??

Begini ustadz, saya anak tunggal, bapak sudah lama meninggal dan ibu baru 1 bulan meninggal. Setelah ibu meninggal, saya dengan suami membongkar almari untuk mencari semua dokumen. Saya kaget karena saya adalah bukan anak kandung orang tua saya, krn ditemukan dokumen pengadilan negeri yang intinya isi tentang adopsi saya. Orang tua saya berikut saudara saya tidak ada yang memberitahukan dari kecil sampai orang tua meninggal.

Empat 4 hari setelah ibu meninggal, datang Fulanah, yang mengaku bahwa ia adalah ibu kandung saya (biasanya sebelum lebaran, ia selalu datang tiap tahun) dan selama ini ibu saya bilang bahwa Fulanah adalah bekas pembantu yang dulu ikut disini lama, sehingga terjalin hubungan yg baik. Tapi yang membuat suami saya agak marah karena Fulanah menanyakan tentang rumah, mobil, motor dll, dan suami saya marah karena ia anggap kurang etis, berhubung ibu barusan meninggal, namun sudah menanyakan warisan.

Ddengan keadaan ini, akhirnya saya tanyakan kepada bulik saya (adik ibu) dan ia jawab bahwa saya sebenarnya adalah anak angkat dan ibu kandung saya adalah Fulanah. Tapi bapak kandung saya menghilang entah kemana. Dan saya diadopsi dari bayi umur kurang dari 6 bulan, sebab Fulanah bingung ditinggal suaminya. Dan atas kesepakatan keluarga pada waktu itu anak di adopsi ibu saya dan ia tidak menuntut apapun.

Dan bulik saya bilang, sesuai dengan Islam bahwa saya dianggap sebagai anak asli dari ibu saya yg meninggal karena ia yg membesarkan dari kecil hingga besar. Sedangkan Fulanah (ibu kandung) cukup dihormati saja dan cukup sekadar tahu kalo ia adalah ibu kandung yg melahirkan saya.

Pertanyaan saya ustadz:
  1. Bagaimana saya harus bersikap terhadap Fulanah, karena saya takut ia akan menuntut macam-macam terhadap saya dan saya juga tidak enak dengan suami dan keluarganya.
  2. Apa benar perkataan bulik saya, bahwa yang dianggap ibu sebenarnya adalah ibu saya yang sudah meninggal?
Atas saran dan jawaban yang ustadz berikan, saya ucapkan terimakasih.
Seorang muslimah
ati*****@yahoo.com
 ==========================================================
Ustadz Ammi Nur Baits menjawab:

Alhamdulillah, was shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillah…
Semoga Allah membimbing kita untuk meniti jalan kebenaran, meskipun pahit rasanya.

Pertama, kami menasehatkan agar Ibu selalu bersabar dan tabah dalam menghadapi setiap cobaan. banyak memohon bimbingan kepada Allah, semoga Allah memberikan solusi terbaik bagi setiap masalah yang kita alami

Kedua, dalam setiap permasalahan yang kita tidak ketahui pemecahan dan rincian hukumnya, hendaknya kita tergesa-gesa dalam memutuskan perkaranya, sebelum merujuk pada keterangan Al Qur’an dan sunnah. Hal ini bisa dilakukan dengan meminta bimbingan kepada ahlinya, maksud saya: orang yang paham Al Qur’an dan Sunnah.

Ketiga, jangan mudah mengambil keputusan hanya berdasarkan usulan dan saran orang lain yang sama sekali tidak ada dasarnya. lebih-lebih jika usulan tersebut ditunggangi dengan emosi dan kepentingan pribadi. apapun keadaannya, berusahalah untuk menyesuaikan diri dengan Al Qur’an dan sunnah…

Terkait dengan permasalahan Ibu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Pertama, siapakah Ibu kita?
Semua orang tahu bahwa Ibu adalah wanita yang melahirkan kita. Bahkan dalam hukum fiqh, termasuk ibu adalah wanita yang melahirkan anak meskipun dari hasil hubungan zina. nasab dan hubungan warisnya dinisbahkan kepada ibunya bukan bapaknya. (lihat Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah). Apapun yang terjadi, wanita yang melahirkan kita adalah ibu kita, meskipun kita sudah diadopsi orang lain, bahkan mungkin sejak kita dilahirkan.

Kedua, orang tua yang mengadopsi kita BUKAN orang tua kita. dia hanya sebatas orang tua asuh, yang telah berjasa mendidik kita. bahkan anggapan bahwa orang tua asuh (pengadopsi) adalah orang tua aslinya adalah prinsip masyarakat kafir Jahiliyah. Sebagaimana dijelaskan para ulama ketika menafsirkan surat Al Ahzab, ayat 37. Dan hukum ini telah dihapus dengan datangnya Islam.

Ketiga, karena orang yang mengadopsi bukan orang tua kita maka tidak ada hukum waris dan hukum lainnya, terkait hubungan antara orang tua dan anak. dengan demikian, Ibu secara hukum islam tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua angkat ibu. namun harta peninggalannya, diserahkan kepada ahli waris dari keluarganya. untuk hukum warisan, perlu ada penjelasan tentang siapa saja yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan orang tua angkat Ibu. karena pembagian waris ini telah Allah tetapkan dalam Al Qur’an, dan tidak boleh menyimpang dari itu.

Sebagai bahan renungan, berikut kami sebutkan beberapa dalil terkait masalah ini:
Pertama, Islam mengharamkan seseorang untuk menisbahkan dirinya kepada selain orang tuanya.
لَيْسَ مِن رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهْوَ يَعْلَمُهُ إِلاَّ كَفَرَ
Siapa saja yang mengaku anak orang lain (bukan bapaknnya) dan dia tahu (itu bukan orang tuanya) maka dia telah kafir. (HR. Al Bukhari – Muslim)
Maksud telah kafir dalam hadis di atas adalah kafir nikmat. artinya, si anak ini tidak tahu berterima kasih kepada bapaknya. bisa juga dimaknai kafir yang mengeluarkan dari islam orang ini meyakini bolehnya menisbahkan diri kepada selain orang tuanya.
Maka jika seseorang diharamkan menisbahkan diri kepada selain bapaknya, demikian juga diharamkan untuk menisbahkan diri kepada selain ibunya.

Kedua, Islam menganjurkan agar seseorang berbakti kepada orang tuanya. bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendo’akan keburukan bagi orang yang tidak bisa berbakti kepada orang tuanya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Celakalah orang, yang ketemu dengan kedua orang tuanya atau salah satunya di usia tua, namun pertemuannya dengan orang tuanya tidak bisa memasukkan dirinya ke dalam surga. kemdian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mengucapkan Amin. (HR. At Turmudzi, Al Bazzar & dishahihkan Al Albani)

Sungguh, kesempatan anda bertemu dengan ibu anda adalah satu nikmat yang besar.sangat disayangkan jika itu disia-siakan. anda bisa bayangkan, sejak anda bayi berusia 6 bulan hingga saat ini anda dewasa dan berkeluarga, tidakkah kita ingin bisa memberikan pengabdian kepada orang tua kita… sesungguhnya kemuliaan anak adalah ketika dia bisa berbakti kepada orang tuanya.

Ketiga, siapapun ibu kita, dia memiliki jasa yang besar kepada kita.
Suatu hari, Ibnu Umar bin Khottob melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf di Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Diambil dari kitab al-Kabair karya adz-Dzahabi)

Kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan Ibu kita ketika melahirkan kita…berapa kali rintihan dan erangan yang beliau lakukan ketika melahirkan kita. sanggpkah kita membalas jasanya…jika dengan menggendong ibu sambil thawaf di ka’bah tidak bisa menggantikan satu rintihan kesakitan ibu ketika melahirkan…

Jika Fulanah betul-betul ibu anda, beliau-lah yang lebih layak dengan anda dari pada orang lain yang bukan orang tua anda. beliau lebih untuk mendapatkan harta anda dari pada orang lain, beliau lebih layak untuk mendapat nafkah dari anaknya dari pada orang lain…

Bagaimana dengan orang tua angkat yang mengadopsi kita?

Kita tidak boleh menganggap orang tua yang mengasuh kita menjadi tidak berarti. beliau memiliki jasa besar kepada kita. mengasuh, mendidik, dan membesarkan. kita menghormati beliau sebatas jasanya… dan sekali lagi HARAM hukumnya menganggap bahwa mereka adalah orang tua kita.

Sikap yang selanjutnya anda lakukan:

Selanjutnya, anda dudukkan masalah ini di hadapan suami anda dan bibik dari ibu angkat anda. selayaknya sebagai suami yang baik, dia menghormati orang tua istrinya yang asli.

Agar suami dan bibik bisa memahami perkara ini sesuai dengan hukum islam. kita semua tidak ingin terjadi permasalahan, lebih-lebih sengketa antara suami & bibi dengan ibu anda. semoga Allah memberi taufik kepada kita semua…

Tentang warisan orang tua angkat:

a. Jika anda dan ibu anda tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan ibu angkat anda maka anda dan ibu anda, tidak memiliki hak warisan. jika kita berani mengambil, berarti kita mengambil harta orang lain tanpa alasan dan itu HARAM
b. untuk rincian siapa saja yang berhak mendapat warisan dari ortu angkat anda maka perlu rincian siapa saja yang menjadi keluarga dan memiliki hubungan darah dengan ortu angkat anda.
Allahumma waffiqnaa…Semoga Bermanfaat!!

Sumber : 

Tinggalkan komentar

Pengalamanku Sebagai Anak Adopsi

Perkenalkan, namaku Bong Tet Po, panggilanku Apo. Aku dibesarkan oleh kedua orangtua angkatku yang  berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Aku dibesarkan di Jakarta, tepatnya di Rawa Bebek, Jakarta Utara.
Menurut data yang kudapatkan, aku dilahirkan di Jakarta, 21 November 1980 dengan nama Hari Sugito. Kedua orangtua angkatku mengadopsiku dari RS ATMA JAYA Pluit, Jakarta Utara.
Pada saat itu aku adalah seorang bayi yang sebenarnya menurut kaca mata manusia tidak layak diadopsi. Secara fisik aku tinggal tulang berbalut kulit dan aku terkena kekurangan gizi akut. Namun, ini semua boleh terjadi karena kasih TUHAN. Aku boleh melanjutkan hidupku dengan adanya aku diadopsi oleh pasutri yang telah dipilihNya sebagai kedua orangtuaku.
Saat-saat ketika mereka mengadopsiku, mereka berjumpa dengan ibu kandungku. Ibu kandungku adalah seorang wanita keturunan Tionghoa sama dengan kedua orangtua angkatku. Dialah yang memberi aku nama Hari Sugito. Dan nama itu sampai hari ini masih melekat padaku.
Aku tidak banyak tahu tentang dirinya. Yang jelas, aku sangat sayang dan mencintainya. Dia adalah ibu yang membuat aku ada di dunia. Apapun alasan yang membuatnya berlaku demikian kepadaku, aku menerimanya dengan lapang dada dan senantiasa bersyukur kepada TUHAN. Sedikitpun aku tidak mempersoalkannya.
Inilah suasana pertama ketika aku dibawa pulang oleh kedua orangtua angkatku ke rumah yang ada di Rawa Bebek, Jakarta Utara. Ada banyak orang terperanjat keheranan melihat pasutri yang membawa seorang bayi yang menurut mereka masih ada banyak bayi dunia ini yang lebih pantas dimiliki atau diadopsi. Menurut cerita pamanku, hampir setiap hari tetangga yang datang menengokku, memberikan pernyataan-pernyataan yang tidak baik tentang diriku. Mereka mengatakan sial bagi pasutri ini karena telah mengadopsi anak seperti ini.
Aneh memang, tepatnya kapan aku tidak tahu kapan kejadian ini terjadi. Setelah pasutri ini mengadopsiku datanglah berbagai persoalan kehidupan silih berganti yang sebelumnya tidak pernah mereka hadapi. Ayah angkatku jatuh sakit keras, aku sakit-sakitan dan pamanku kerasukan setan. Dengan adanya kejadian ini, makin bertambahlah orang-orang yang mengatai aku si pembawa sial. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu mengenai jati diriku yang sebenarnya kalau bukan pamanku yang bercerita.
Sewaktu aku duduk di bangku SD, ada banyak temanku mengata-ngatai aku anak pungut. Aku sedih ketika mendengar hal itu, ditambah lagi ada orangtua temanku yang juga berkata seperti itu. Anehnya lagi, ketika aku bermain dengan anak-anaknya, aku diusir dan aku dicubit. Ya, mereka tidak suka padaku. Orang ini adalah tetanggaku sendiri. Dan tidak hanya satu orang yang seperti ini padaku.
Kalau dipikir-pikir, apa salahku sama mereka. Aku hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Toh, aku tidak melakukan suatu kejahatan apapun. Aku suka sekali merenung, sebenarnya ada apa denganku? Tidak disangka-sangka aku menjadi anak yang memiliki luka batin yang sangat dalam. Sekian belas tahun lamanya aku dihina-hina dan dikata-katai orang anak pungut, anak haram. Pada akhirnya, diusiaku yang menjelang 17 tahun, aku tahu tentang semua kebenaran ini. Inipun bisa terkuak karena adanya peristiwa yang berkaitan dengan perjalananku di dunia roh. Selengkapnya bisa dibaca di karya tulisku yang berjudul  
Kami tinggal di Rawa Bebek kurang lebih 12 tahun. pada tahun 1992, kami pindah ke Perumahan Poris Indah, Jl. Asoka N0.187, Tangerang. Dan sampai saat ini kami masih tinggal disana. Apa yang saya ceritakan ini adalah sebuah kisah nyata tanpa rekayasa atau didramatisir. Aku bersyukur punya orangtua angkat yang begitu amat sangat baik padaku. Mereka sudah berjuang dengan gigih dalam membesarkan, memelihara dan menghidupiku. mereka benar-benar luar biasa, Mereka sama sekali tidak termakan omongan orang lain yang berupaya menghasut mereka perihal keberadaanku sebagai anak adopsi.
Memang benar, mereka sudah banyak berkorban dalam menghidupiku, seorang bayi yang tidak sehat menjadi seorang anak yang bisa ada hari ini. Aku juga bersyukur dan berterimakasih kepada kedua orangtua kandungku yang telah membuat aku ada di dunia, meskipun aku tidak tahu siapa mereka dan dimana keberadaan mereka.
Terimakasih juga tidak lupa kuucapkan kepada orang-orang yang notabene tetanggaku yang ada di Rawa Bebek yang telah berlaku tidak baik kepadaku. Ya, dengan mengatai-ngatai anak kecil yang lugu dan polos, yang tidak tahu apa-apa dengan segala kata yang menyakitkan. Terimakasih semuanya.
Terlebih lagi terimakasih kuucapkan kepada TUHAN yang telah menciptakan aku di dunia ini. Aku yang seharusnya tidak ada di dunia ini menjadi ada karena rencanaNya yang sempurna. Segala sesuatu baik adanya.

Tinggalkan komentar

Panti Asuhan Muhammadiyah Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku

saha
Alamat
Panti Asuhan Tunas Harapan
Jl. Raya 162 Telp. 62482 Penarukan 68351 , Jawa Timur
Panti Sosial PKU Muhammadiyah
Jl. K. H. Kholil 73 Gresik , Jawa Timur
Panti SK PKU Muhammadiyah
Jl. Cipto Mangunkusumo 19 Bondowoso, Jawa Timur
Panti Asuhan Tunas Melati Muhammadiyah
Tuban Kutorejo Tuban , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Supriyadi 17 A Kertosono Nganjuk , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Buton 4 Denpasar , Bali
Panti Asuhan Muhammadiyah
Ds. Banyubiru Kec. Negara/Jl. Udayana No. 80 Telp. 0365 40008 , Bali
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Pattimura di Pane NaE Bima , NTB
Depot Al-IKhlas Muhammadiyah
Jl. Anggrek 1 di Ranggo Bima , NTB
Panti Asuhan Muhammadiyah Mataram
Jl. Sriwijaya Mataram 83126 Telp. 636674 , NTB
Panti Asuhan Zaenab Binti Jahsy Muhammadiyah
Jl. Mangga No. 16 Sumbawa Besar 84313 Telp. 0371 24019, NTB
Panti Asuhan Ummul Mukminin Hafsah
Jl. Jend. Sudirman Waioti Maumere 86111 Telp. 0382 21073, 21834 , NTT
Panti Asuhan Tunas Melati
Jl. Tani Makmur Gg. Kesehatan Kel. Parit Tokaya Pontianak Selatan 78121 Telp. 0561 44757 , Kalimantan Barat
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Pandulangan Albio Hulu Sungai Utara , Kalimantan Selatan
Panti Asuhan Muhammadiyah Yatim Muhammadiyah
Jl. Pangeran No. 24 Rt. 12 Banjarmasin 70124 Telp. 0511 68733 , Kalimantan Selatan
Panti Asuhan Muhammadiyah Yatim
Jl. Polder Rt. 01 No. 10 Pandulangan Alabio 71455 , Kalimantan Selatan
Panti Asuhan Putra Muh. Al-Furqon
Jl. Jend. Sudirman Balikpapan 76114 Telp. /Fax 411857 – 441720 , Kalimantan Timur
Panti Asuhan Aisyiyah Sumaryati Taylor
Jl. Mulawarman Rt. 22/02 Selili kel. Manggar 76116 Telp. 0542 63925 , Kalimantan Timur
Panti Asuhan Istiqomah Muhammadiyah
Jl. Wachid Hasyim Gg. Ahim Sempaya Samarinda 75119 Telp. /Fax 250085 – 251255 , Kalimantan Timur
Panti Asuhan Aisyiyah
Jl. Bayangkara Rt. 27 No. 9 Bontang Telp. 22898 , Kalimantan Timur
Panti Asuhan Aisyiyah
Jl. Jend. A. Yani 49 Limboto 96219 Gorontalo , Sulawesi Utara
Panti Asuhan Muhammadiyah
Kec. Kota Selatan Kab. Gorontalo , Sulawesi Utara
Panti Asuhan Yatim Marhamah
Jl. Kusno Danupoyo No. 131 Ipilo GORONTALO 96112 Telp. 22641 , Sulawesi Utara
Asuhan Keluarga Nurul Falah
Jl. Panjaitan Palu Sulteng , Sulawesi Tengah
Panti Asuhan Putra Muhammadiyah
Jl. Mantilayu No. 05 Mamboro Telp. 0451 91910, 29878 , Silawesi Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Limbung Kec. Bajeng Kab. Gowa 92152 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Muhammadiyah
Limbung Kec. Bajeng Kab. Gowa 92152 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Miftahul Jannah
Jl. R. A. Kartini 17b, Benteng Kab. Selayar 92812 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Muhammadiyah Bahagia
Jl. Muhammadiyah 34 B Ujung Pandang 90171 Telp. 315587 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Sejati Muhammadiiyah
Jl. Cikalang V/44 Ujung Pandang 90132 Telp. 852717 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Ummu Aiman Muh.
Jl. Beruang 91-B Mamajang Ujung Pandang , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Jannatul Mawa
Jl. Andalas No. 27A A Bontoala UP Kode Pos 90157 Telp.15311 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan . Mardiyah Muhammadiyah
Jl. Tinumbu Lr. 142/132 No. 57 Layang 90154 Telp. 310018 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Al Maun Muhammadiyah Jalanjang
Jl. Poros Bulukumba Km. 8 Kode Pos 92561 Kotak Pos 35 Ujungpandang Telp. & Fax. 0413 82046 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Yatim Mattoanging
Jl. Penghibur Pangkep Telp. 0410 21154, 90617 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Sejahtera `Aisyiyah Cab. Sidenreng
Jl. Jend. Sudirman No. 190 Pangkajene 91611 Telp. 0421 91806 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Sejati Muhammadiyah
Jl. Kemakmuran Rappang , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Sejahtera
Jl. Laudang Kampung Sidrap , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan St. Khatijah Aisyiyah
Jl. Mongonsidi No. 39 Pinrang Telp. 921607 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. M. Ali Gassing Jeneponto, Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Saudatul Banat Aisyiyah
Bulukumba Kota 92513 Telp. 0413 82047 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Darul Arqom
Ponre Kel. Matekko Kec. Gangking Bulukumba,92561 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan . Ridha Muhammadiyah Enrekang
Jl. HOS Cokroaminoto No. 21 Enrekang l 91711 Telp. 0420 21283 , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Darussalam Muhammadiyah
Jl. Empat Puluh Ribu No. 12 Sengkang 90914 Telp. 21305 Wajo , Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Abadi
Jl. Panti Asuhan 5 Pare-Pare, Sulawesi Selatan
Panti Asuhan Al Mubarak
Jl. Ds. Pattiro Deceng Camba Maros 90562 , Sulawesi Selatan
Asuhan Keluarga Muhamadiyah
Cabang Muhammadiyah Ambon I , Maluku
Asuhan Keluarga Muhamadiyah Cabang Muhammadiyah
Ambon II u , Maluku
Asuhan Keluarga Muhamadiyah Cabang Muhammadiyah
Ambon III , Maluku
Asuhan Keluarga Muhamadiyah Cabang Muhammadiyah
Ambon IV , Maluku

Tinggalkan komentar

Panti Asuhan Muhammadiyah Jawa Tengah dan Jawa Timur

Amal Usaha
Alamat
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Kertosari 21 Temanggung 56217 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Cab. Muntilan
Jl. Tentara Pelajar Nglawisan Temanggung Telp. 0293 87944 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Masjid I/12 Wonosobo , Jawa Tengah
Panti Asuhan Mandhani Siwi Muhammadiyah
Jl. Wiramenggala No. 176 Purbalingga Telp. 0281 894953 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Aisyiyah
Komplek PKU Kriyan Pecangaan Jepara 59462 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim PKS Muh. Purwokerto
Jl. dr. Angka No. 41 Purwokerto 53115 Telp. 33726 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Panti Asuhan Ajibarang Kulon Purwokerto , Jawa Tengah
Panti Asuhan P. A. Yatum PKS Muh. Purwokerto
Jl. Gerilya No. 288 Purwokerto Telp. 623204 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Aisyiyah Cab. Blambangan
Jl. Pramuka 305 Blambangan Bawang Banjarnegara 53471 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah
Jl. Progo No. 43 Cilacap 53200 Telp. 33065 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. KHA Dahlan 9 Blora , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Al-Maskun Remban
Jl. WR. Supratman 36 Rembang 59211 Telp. 295 91594 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Telukan Grogol Sukoharjo , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Blimbing Wonorejo Polokarto Sukoharjo , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Gumpang Kartasura Sukoharjo , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Abu Hurairah Salatiga
Jl. KH Dahlan Soka Salatiga 50714 Telp. 0298 22503 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Putra Muhammadiyah
Lowanu MG III/1361 Tlp. 373113 Kodya Yogyakarta 55153 , Yogyakarta
Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah
Jl. Munir No. 109 Serangan 55262 Telp. 0274 374918 , Yogyakarta
BP Zakat Infak & Shadaqoh
Jl. Basuki Rahmat 6, Bantul Dista 55711 , Yogyakarta
Panti Asuhan Salahuddin Al-Ayubi
Kriyanan Wates Kulon Progo Dista 55611 , Yogyakarta
Panti Asuhan Yatim Piatu & Dhuafa Cab. Prambanan
Ringin Sari Bokoharjo Prambanan 55572 Telp. 496747 , Yogyakarta
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Raya Balong Bendo Kab. Sidoarjo , Jawa Timur
Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah
Jl. Diponegoro 26 Lumajang 67315 Trlp. 881409 , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Komp. PP Karangasem Paciran Kab. Lamongan , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
d. a. Utara Monumen Kadet Suwoko Kab. Lamongan , Jawa Timur
Panti Sosial PKU Muhammadiyah
Jl. KHA Dahlan 14 Babat Kab. Lamongan , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Jend. Sudirman Gg. Ikan Tombro No. 1 Lamongan 62212 Telp. 0322 322366 , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah Cab.Lamongan
Jl. Jend. Sudirman Lamongan 62212 Telp. 0322 322366 , Jawa Timur
Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah
Jl. Barata Jaya XIX/72 Surabaya 60284 Telp. 031 5683387 , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Gresikan No. 59 No. 62 Tambaksari Surabaya 60133 Telp. 5345208 , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah Kedriri
Jl. KHA Dahlan 39 Kediri 64112 Telp. 773939 , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah Pare
Jl. Mastrip Pandean IA Pare Kediri 64211 Telp. 0359 391491 , Jawa Timur
Panti Asuhan Putra
Jl. Raya P. Sudirman 65 Probolinggo 67214 , Jawa Timur
Panti Asuhan Putri
Jl. Ir. H. Juanda 57-H Probolinggo 67211 , Jawa Timur
Panti Wreda/Jompo Muhammadiyah
Jl. Ir. Sukarno-Hatta 28 Probolinggo 67219 , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Slamet Riyadi 52 Blitar , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Mayjen Sungkono No. 38A Blitar 66133 Telp. 806516 , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah Malang
Jl. Bareng Tenes IV-A/637 Malang 65116 Telp. 0341 365453 , Jawa Timur
Panti Asuhan Putri Aisyiyah
Jl. Meyjen Haryono III/231A Malang Telp. 582717 , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. R. A. Abd. Azis No. 86 Pamekasan 69317 Telp. 0324 21280 , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah Magetan
Jl. Salak No.31 Magetan 63311 Telp.0351 895639, Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. KHM Mas Mansyur 26 Mojokerto , Jawa Timur
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah
Ds. Tawangsari Kec. Trowulan Mojokerto 61362 Telp.031 495889 , Jawa Timur
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah
Jl. Dr. Sutomo 15 Jombang 61419 Telp. 0321 861210 , Jawa Timur
Panti Asuhan Yatim Piatu Muhammadiyah
Jl. Merbabu No. 26 Madiun 63121 Telp. 0351 453920 , Jawa Timur
PANTI ASUHAN YATIM Muhammadiyah
Jl. Jend. Basuki Rahmat Gang Aspol Telp. 85415 Sukorejo, Bojonegoro , Jawa Timur
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah
Jl. KH Agus Salim Gg. SP I No. 6 Kauman Bojonegoro 62113 Telp. 0353 883542 , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Letjen S. Sukowati 75 Polorejo Babadan Ponorogo , Jawa Timur
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. KBP Duryat 29 Mangkujayan Ponorogo , Jawa Timur
Panti Asuhan Yatim Ukhuwah Islamiyah Buluagung
Pesanggrahan Telp. 710186 Banyuwangi 68488 , Jawa Timur

Tinggalkan komentar

Panti Asuhan Muhammadiyah Jawa Barat dan Jawa Tengah

Amal Usaha
Alamat
Wisma Khadijah
Kampung Karangjalak Cirebon , Jawa Barat
Panti Guna Sholihah Singaparna
Jl. Cikedokan Singaparna 46411 Singaparna Tasikmalaya Telp. 0265 545331 , Jawa Barat
Panti Asuhan Tumpuan Harapan
Linggawangi Leusari Singaparna Tasikmalaya Telp. 0265 543569 , Jawa Barat
Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah Klaten
Jl. Cemara No. 8 Klaten 57411 Telp. 0272 21147 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Aisyiyah
Jl. Tegal Sepur 2 Klaten , Jawa Tengah
Panti Asuhan Putri Aisyiyah
Daerah Klaten Jl. Dahli No. 4 Tungaan Klaten 57412 Telp. 22404 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Surakarta
Jl. Brigjen Slamet Riyadi No. 441 Surakarta Telp. 710843 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Aisyiyah
Jl. Tulang Bawang Utara 12 Solo Utara Kod. Surakarta , Jawa Tengah
Penyant. Usia Lanjut Aisyiah
Jl. Pejajaran Utara III/7 Sumber Banjarsari Surakarta , Jawa Tengah
Panti Asuhan Aisyiyah
Jl. Sam Ratulangi Manahan Kodya Surakarta , Jawa Tengah
BAKESOS (Simpan Pinjam Tanpa-Bunga)
Joyonegaran 4 Kepatihan Kulon Kod. Surakarta , Jawa Tengah
Gerakan Orang Tua Asuh
d. a. PKU Muhammadiyah Jl. Ronggowarsito 130 Surakarta , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Putru Aisyiyah Cab. Kottabarat
Jl. Samratulangi No. 34/38 Surakarta 57139 Telp. 718698 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Sragen
Jl. Sumbing No. 1 Sragen 57214 Telp. 0271 91369, Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah
Jl. Raya Sukowati 310 Kliteh Sragen 57211 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Lawu Tegalsari RT 4/X Kab. Karanganyar, Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Putra Muhammadiyah
Jl. Cemara Sidoarjo Boyolali Telp. 0276 21930 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah
Jl. Tlatar Kebon Bimo Boyolali , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Putra-Putri Aisyiyah
Ds. Nreni PCM Simo Boyolali, Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Muh. Samsah Kudus
Jl. Sumur Tulak 15 Singocandi Kudus 59314 Telp. 0291 440430 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Ganesa 19 Telp. 34320 Kudus , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Utama Tengah No. 221 Weleri Kab. Kendal Telp. 0294 41956 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Tampingan Kendal , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Utama Tengah 38, Weleri Kendal , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah Tuntang
Jl. Raya Semarang-Solo Km. 41 Tuntang 50773 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Aisyiyah
Jl. Raya Semarang-Solo Km. 41 Tuntang, Kab. Semarang , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. KHA Dahlan Soka Salatiga Kab. Semarang , Jawa Tengah
Panti Asuhan Putri Aisyiyah
Jl. Raya Tuntang No. 71 Semarang , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Wonodri Dalam II/22 Telp. 310505 Kodya Semarang , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Giri Mukti Barat II/19 Tlogosari Semarang 50196 Telp. 024 710669 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Aisyiyah
Jl. Srikandi X/61 Semarang Utara 501781 Telp. 024 516395 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Aisyiyah Purwodadi
Kauman Selatan Gang Ulama No. 9 Telp. 0292 21683 Purwodadi Grobogan , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Aisyiyah
Jl. Desa Kwaron Purwodadi Grobogan, Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah
Gubuk Grobogan 58164 Telp. 0292 533705 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah
Jl. Dr. Wahidin No. 108 Pekalongan 51121 Telp. 0285 24743 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Wisma Rini `Aisyiyah
Jl. WR. Supratman No. 40 Pekalongan 51114 Telp. 23507 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim PKS Muhammadiyah Pekajangan
Jl. Raya Pekajangan No. 82 Kedungwuni 51172 Pekalongan , Jawa Tengah
Panti Asuhan Umar bin Khotob
Jl. Ahmad Yani Gg. Cempaka No. 180B Batang 51125 Telp. 0285 92486 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. RA Kartini 41 Telp. 53689 Kodya Tegal , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Darun Al-Aitam PKS Muh.
Jl. Moga Pulosari Km. 2 Moga Pemalang 52354 Telp. 0284 84410 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Wakhid Hasyim Kab. Tegal , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Margasari Kab. Tegal , Jawa Tengah
Panti Asuhan Putri Aisyiyah
Jl. KS Tubun No. 32 Kel. Randugunting Tegal Telp. 58668 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Karangjati Balamoa Tegal Kab. Tegal , Jawa Tengah
Panti Asuhan Aisyiyah
Jl. Kauman Brebes, Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Kebumen
Jl. Mayjend Sutoyo No,34 Kebumen 54300 Telp. 0287 81317 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Putri Aisyiyah Batikan
Pabelan, Mungkid, Magelang Tromol Pos 1 Blabak 56551 Telp. 0293 87821 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Muhammadiyah
Jl. Tamanagung Muntilan Magelang, Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah
Jl. Paingan Trasan Bandongan Magelang 56151 Telp. 0293 66839 , Jawa Tengah
Panti Asuhan Yatim & Tuna Netra Muh
Cab. Purworejo Jl. Plaosan V/382 Purworejo 54111 Telp. 0275 21506 , Jawa Tengah

Tinggalkan komentar

Suara Muhammadiyah tentang Adopsi

Oleh Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.
SETELAH melaksanakanpernikahan, pasangan suami isteri mana pun umumnya mulai menunggu denganharap-harap cemas kehadiran anak. Ada yang segera dianugerahi oleh Allah SWTanak dan ada juga yang harus bersabar menunggu beberapa tahun. Tetapi tidaksedikit pula yang tidak beruntung mendapatkan anugerah itu. Keinginan menjadiibu dan bapak adalah fitrah setiap orang yang sudah berkeluarga. Hanya orangyang tidak normal saja yang tidak ingin mempunyai anak. Dengan fitrah itulaheksistensi umat manusia tetap terjaga.  
Sekalipun suamiisteri sudah dapat hidup dengan harmonis, tenteram dan damai, tetapi rasanyamasih ada yang kurang bila belum mendapatkan anak. Ibarat berpakaian, sekalipunsudah lengkap menutupi aurat, tapi rasanya masih ada yang kurang sebelum adasatu dua perhiasan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebutkan memang anak–anakadalah perhiasan hidup dunia.

الْمَالُوَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌعِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dananak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagisaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untukmenjadi harapan.” (Q.S. Al-Kahfi 18:46)
Disamping naluri, banyak alasan kepada orang tua ingin punya anak. Ada yangmenginginkan anak untuk meneruskan garis keturunan. Dia menganggap garisketurunannya akan punah jika sama sekali tidak punya anak Alasan ini menjadisemakin kuat bagi orang-orang yang punya status sosial yang tinggi ditengah-tengah masyarakatnya. Apalagi bagi raja-raja atau sultan-sultan yangmewariskan kerajaan atau kesultanannya kepada anak-anaknya. Alangkah risaunyaseorang raja bila tidak dianugerahi Allah SWT seorang anak pun.
Adajuga yang memikirkan bisnis dan harta kekayaannya yang melimpah. Siapa yangakan mewarisi semua kekayaannya jika dia sudah meninggal dunia. Siapa yang akanmeneruskan dinasti bisnisnya. Dia mengganggap sangat merugi bila kerajaanbisnis yang sudah susah payah dibangunnya itu jatuh kepada orang lain karenadia tidak punya anak.
Disamping itu ada juga yang merisaukan siapa yang akan mendo’akannya kelakapabila sudah meninggal dunia jika dia tidak punya anak. Bukankah anak yangsaleh akan selalu mengalirkan pahala kepada kedua orang tuanya sebagaimana yangdisabdakan oleh Nabi Muhammad SAW:
“Jikaseseorang mennggal dunia putuslah (pahala) amalannya kecuali salah satu dari tigahal: Shadaqah jariah, ilmu yang bermanfaat yang dapat diambil manfaatnya, dananak saleh yang mendo’akannya” (H.R. Muslim)
Yanglebih idealis, tidak merisaukan garis keturunan, kekuasaan dan harta kekayaan,tapi cita-cita dan perjuangan. Dia ingin sekali punya anak supaya dapatmeneruskan cita-cita dan perjuangannya. Dari kalangan Nabi-nabi, contohkerisauan ini dapat dilihat pada diri Nabi Zakaria ‘alaihi as-salam. Perhatikandan renungkanlah do’a Nabi Zakaria tatkala memohon kepada Allah SWT supaya dianugerahiseorang putera yang akan meneruskan tugas-tugas kerisalahannya. 
ذِكْرُرَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا(2)إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءًخَفِيًّا(3)قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُشَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا(4)وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَمِنْ وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَوَلِيًّا(5)يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّرَضِيًّا(6)
“(Yangdibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya,Zakariya, yaitu tatkala ia berdo`a kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Iaberkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telahditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada Engkau, yaTuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedangisteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkauseorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya`qub;dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai” (Q.S. Maryam 19:2-6)
NabiZakaria sudah tua. Dua tanda ketuaan disebut oleh Nabi Zakaria, pertama, tulangyang sudah lemah dan kedua, rambut yang sudah memutih penuh uban. Apalagiisterinya juga seorang perempuan yang mandul. Menurut ilmu manusia, sangattipis kemungkinan Zakaria bisa mendapatkan anak. Tetapi karena kekhawatirannyayang sangat tinggi tentang penerus risalah sepeninggalnya, Nabi Zakariya denganpenuh harap memohon kepada Allah SWT untuk dianugerahi seorang putera yang akanmenjadi pewaris Zakaria dan sebagian keluarga Ya’qub.
            Menurut Ibnu Katsir (III:142), yangdimaksud dengan mewarisi Zakaria dan sebagian keluarga Ya’qub, bukanlahmewarisi harta kekayaan karena Zakaria, untuk memenuhi kebutuhan hidupnyaberprofesi sebagai tukang kayu yang tidak mempunyai harta kekayaan yang banyak.Lagi pula berdasarkan keterangan dari Rasulullah SAW, para Nabi tidakmewariskan kekayaan kepada keluarganya. Dalam hadits riwayat Tirmidzi Nabibersabda: “Kami—para Nabi—tidak mewariskan kekayaan”.  Jadi, menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud olehNabi Zakaria, warisan yang diharapkan akan diterima oleh puter yangdimohonkannya itu adalah warisan kenabian (mirats an-nubuwwah).
            Do’a Nabi Zakariya dikabulkan AllahSWT dengan menganugeri beliau seorang putera yang namanya langsung diberikanoleh Allah sendiri, yaitu Yahya. Dan Yahya kelak akan menjadi Nabi yangmeneruskan risalah yang disampaikan oleh bapaknya.
            Motivasi mulia seperti Nabi Zakariaitulah yang paling terpuji bagi seseorang dalam mengharapkan anak, walaupunmotivasi-motivasi lain sebagaimana yang telah disebutkan di atas bukanlahterlarang. Tapi yang lebih penting dari sekadar meneruskan garis keturunan,mewarisi kekuasaan dan kekayaan, adalah meneruskan cita-cita dan perjuanganorang tuanya.
            Beberapa orang tua yang sudah lamatidak mendapatkan anak,  di samping tetapberusaha, mereka berdo’a dengan sungguh-sungguh tanpa putus asa kepada AllahSWT, akhirnya permohonan mereka dikabulkan oleh Allah. Tetapi tidak sedikitpula yang do’anya—Allah yang mengetahui hikmahnya—tidak dikabulkan oleh AllahSWT. Untuk orang-orang semacam ini biasanya berusaha memenuhi naluri menjadiorang tuanya dengan mengangkat anak, baik anak saudara atau kerabatnya sendiri,maupun anak orang lain yang sama sekali tidak punya hubungan darah dengannya.
            Dalam bahasa Arab, mengangkat anakseperti itu biasa disebut laqata (secara harfia berarti memungut) atau tabanni(menganggap anak). Dalam bahasa Belanda disebut adaptie, dan  dalam bahasa Inggris disebut adopt.Sedangkan istilah adopsi berasal dari adoption dengan arti pengangkatananak. Dalam percakapan sehari-hari anak seperti itu lazim disebut anak angkat.
            Tadisi mengangkat anak ini sudah adasejak zaman sebelum Nabi  Muhammad SAWdiutus. Pada masa itu anak-anak yang diangkat atau diadopsi dianggap samadengan anak kandung. Nabi sendiri punya seorang anak angkat yang bernama Zaidibn Haritsah. Tadinya Zaid adalah budaknya Khadijah binti Khuwailid, isteriNabi. Khadijah menghadiahkan Zaid kepada Nabi yang kemudian memerdekakannya danmengangkatnya sebagai anak dengan mengganti namanya dengan Zaid ibn Muhammad,bukan lagi Zaid ibn Haritsah. Di hadapan kaum Quraisy Nabi berkata:“Saksikanlah oleh kalian bahwa Zaid kuangkat menjadi anakku dan ia mewarisikudan aku mewarisinya.
            Beberapa waktu kemudian, setelahbeliau diangkat sebagai Nabi dan Rasul, turunlah wahyu mengoreksi masalah ini:
مَا جَعَلَاللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ وَمَا جَعَلَ أَزْوَاجَكُمُاللَّائِي تُظَاهِرُونَ مِنْهُنَّ أُمَّهَاتِكُمْ وَمَا جَعَلَ أَدْعِيَاءَكُمْأَبْنَاءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُمْ بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّوَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ(4)ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَاللَّهِ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا ءَابَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِوَمَوَالِيكُمْ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْمَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Allahsekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; danDia tidak menjadikan isteri-isterimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, danDia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yangdemikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yangsebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anakangkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adilpada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka(panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dantidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang adadosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagiMaha Penyayang.” (Q. S. Al-Ahzab 33:4-5)
            Dua ayat di atas mengoreksi sikapNabi Muhammad SAW dan orang-orang Mekkah lainnya yang menganggap anak angkatsama dengan anak kandung. Allah SWT menegaskan, pengakuan itu sama sekali tidakdapat merobah status hukum anak angkat menjadi anak kandung. Oleh sebab ituanak angkat tidak boleh dinisbahkan kepada bapak angkatnya, tetapi tetap harusdinisbahkan kepada bapak kandungnya. Dalam kasus Zaid, tidak boleh disebut Zaidibn Muhammad, tetapi tetap Zaid ibn Haritsah. Karena bukan anak kandung, dengansendirinya status hukumnya tidak sama dengan anak kandung, tapi sama denganorang lain. Oleh sebab itu antara anak angkat dengan orang tuanya tidak adahubungan kewarisan dan hubungan kemahraman.
            Persoalan kemahraman ini perluditekankan, karena banyak yang menggap dan memperlakukan anak angkat sebagaimahram. Untuk menegaskan dan membuktikan bahwa anak angkat tidak punya hubungankemahraman sama sekali dengan orang tuanya, Allah SWT sampai memerintahkankepada Nabi Muhammad SAW untuk mengawini Zainab, janda Zaid ibn Haritsah. Dalamtradisi Arab sebelum Islam, Nabi tidak boleh mengawini Zainab, mantan menantuangkatnya itu. Tapi Allah justru memerintahkan Nabi mengawininya.
وَإِذْتَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْعَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِوَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌمِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌفِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُاللَّهِ مَفْعُولًا(37)مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَاللَّهُ لَهُ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَكَانَ أَمْرُاللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا
“Dan (ingatlah), ketika kamuberkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu(juga) telah memberi ni`mat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu danbertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apayang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lahyang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhirikeperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan diasupaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isterianak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikankeperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allahbaginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya padanabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatuketetapan yang pasti berlaku. “ (Q.S. Al-Ahzab 33:37-38)
Setelahturunnya ayat-ayat di atas, seorang Muslim tidak boleh lagi memberlakukan anakangkatnya secara hukum sama dengan anak kandung. Lain masalahnya secara morildan kasih sayang. Menyayangi anak orang lain seperti menyayangi anak sendiriadalah perbuatan mulia, tetapi semuanya itu tetap tidak dapat merubah statushukum dan segala konsekuensinya.
Sumber:
SuaraMuhammadiyah
Edisi16 2002

Tinggalkan komentar

“Sayang, kamu lahir dari hati mama…”

Sumber : http://www.parenting.co.id/article/usia.sekolah/sayang.kamu.lahir.dari.hati.mama/001/004/143

Kekhawatiran orangtua dari anak hasil adopsi memang sangat besar. Terutama ketika dihadapkan pada kapan saatnya ‘to tell the truth’ pada anak tersebut. Anda mungkin bisa mengambil hikmah dari kisah 2 ibu berikut ini. 

Layaknya wanita yang telah menikah, hati Pia Melania Simanjuntak dan Diena Haryana sangat mendambakan datangnya si buah hati. Namun ketika penantian itu tak kunjung berakhir, keduanya memutuskan mengambil langkah adopsi. Keduanya juga mengambil langkah yang boleh dibilang tak terlalu popular dilakukan di Indonesia, yakni memberitahu status adopsi kepada anak, di saat usia mereka masih terbilang dini. Bagaimana cerita mereka?

Keterbukaan terbatas Walau sejak awal memutuskan untuk sedini mungkin terbuka pada Fernando Goklas Pong Masak (8) soal status adopsinya, Pia Melania Simanjuntak (38), memilih untuk membatasi keterbukaan itu pada orang-orang terdekat saja dengan alasan ingin melindungi putranya dari pertanyaan-pertanyaan jahil. Selain pertanyaan tentang latar belakang anak, Pia juga kerap mendapatkan pertanyaan yang lebih ‘heboh’ lagi, seperti “Apa nanti kalian akan mewariskan harta kepada anak adopsi?”
    Lantaran sejak awal sudah mempersiapkan diri, semua pertanyaan itu dijawab dengan enteng saja. “Suami saya pernah bilang, kenapa harus cemas, karena harta kami adalah buku-buku,” kata Pia yang bersuamikan, dosen Bahasa Prancis, Tanete Pong Masak, sambil tertawa renyah.
Soal sifat buruk yang mungkin diwarisi oleh anak dari orang tuanya pun tak membuat hati Pia gundah. Toh berbagai literatur pendidikan dan psikologi yang dibacanya sebagai guru pra sekolah, mengindikasikan ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengajarkan hal-hal baik pada anak.
    Atas dasar pemikiran itu, Pia ‘menyekolahkan’ Fernando ke sebuah lembaga pendidikan pra sekolah, saat ia baru berusia 14 bulan. Selain membacakan buku tentang keluarga, Pia juga mengajaknya menonton program edukasi anak seperti Barney and Friends. “Di salah satu episodenya diceritakan tentang berbagai jenis keluarga di AS. Misalnya ada anak yang tinggal dengan ayah-ibu, nenek-kakek, hanya dengan salah satu orangtuanya, dan ada juga yang bersama orangtua adopsi.” Pia dan suaminya juga mengajarkan tentang proses anak dikandung dan dilahirkan lewat buku-buku dan gambar.
    Ketika Fernando mulai bertanya tentang warna kulitnya yang berbeda dengan kulit Pia yang kuning, Pia pun jadi sering browsing di internet, untuk mendapatkan jawaban. Akhirnya dari sebuah situs berbasis di AS,  Pia mendapatkan data yang menyatakan 80% ahli berpendapat bahwa usia yang paling tepat untuk memberitahu soal adopsi pada anak adalah di usia 5 tahun.
    “Saat itu usia Nanan – panggilan Fernando – sudah hampir 5 tahun. Sebelum menyampaikan kenyataannya, saya menekankan bahwa ia adalah anak kesayangan kami. Hanya bedanya, Nanan lahir dari rahim mami yang lain.” Kenang Pia dengan haru.
    Fernando, diakui Pia, terlihat sempat syok dan menangis. Ia bertanya tentang siapa orangtuanya, dan mengapa mereka menyerahkan dirinya pada orang lain. Pia dan suaminya lalu mencoba membangun citra positif tentang orangtua kandung Nanan. “Saya bilang, mungkin mami yang melahirkannya punya anak banyak, sehingga dia merasa perlu mencari orangtua yang bisa memberikan kasih sayang, sandang dan pangan yang cukup, supaya Nanan tumbuh jadi anak yang sehat dan pintar.”
    Kemurungan Fernando ternyata berjalan selama 2 minggu. Selama masa-masa itu, ia banyak bertanya soal masa kecilnya. Untunglah, Pia cukup rajin membuat catatan harian tentang perkembangan Fernando yang ternyata membuat Nanan senang. “Dan suatu hari… boom… Nanan tiba-tiba saja bilang ‘Mami, aku sudah mutusin untuk tetap ikut mami’!”
    Kini, Fernando yang sudah duduk di kelas 3 SD, tumbuh sebagai anak yang penuh percaya diri. Pia juga sudah memperlihatkan dan menerangkan padanya surat adopsi dari pengadilan. “Dia sadar betul kalau secara hukum statusnya jelas sebagai anak kami. Memang sesekali kalau sedang ingat pada orangtuanya dia akan bilang ‘Mami, saya mau cari uang yang banyak, untuk saya kasih ke ibu (sebutan Nanan untuk mami kandungnya).”
    Meski tak merasa terganggu dengan statusnya sebagai anak adopsi, Nanan meminta ibunya untuk hanya membicarakannya dengan orang-orang tertentu saja. “This is a family matters, Mom,” begitu katanya suatu kali. Pandangan itu belakangan berubah total, setelah ia sempat tinggal beberapa bulan di Prancis, mengikuti ayahnya yang mengajar di sana. Di Prancis, Nanan melihat anak-anak dari Asia yang diangkat oleh orang Barat.  “Pikiran Nanan jadi cepat terbuka, dan sekarang, sudah semakin bertambah pede. Apalagi di Prancis banyak anak-anak suka melihat kulitnya yang sawo matang. Waktu saya minta izin padanya untuk berbagi cerita dengan Parenting-Indonesia, dia dengan cueknya bilang: ‘Nggak apa-apa mami, ceritakan saja. Kan aku bisa jadi ngetop!” Kisah Pia sambil tertawa tergelak-gelak.

Utamakan Self Image-nya
Sejak memutuskan untuk mengadopsi anak, Diena Haryana dan mantan suaminya Andrew Trigg, sudah memutuskan untuk bersikap terbuka soal status adopsi, kepada Nadia.
    “Saya tak ingin dia tahu soal adopsi dari orang lain, misalnya ketika dia sudah mulai sekolah. Maklum, Andrew kan orang Inggris, sementara kulit Nadia kan gelap. Pasti akan timbul pertanyaan,” kata Diena yang dalam kesehariannya sibuk menggawangi Yayasan Sejiwa. Sebuah yayasan yang menyediakan pelatihan nilai-nilai keluhuran pada para guru dan pendidik.
  
Proses pengenalan tentang konsep adopsi pun dimulai sejak usia yang sangat dini. Diena menggunakan berbagai media, seperti buku cerita anak-anak yang mengisahkan tentang anak-anak adopsi. Diena mengaku, ia dan Andrew juga sangat senang memberikan sentuhan fisik yang menunjukkan kasih sayang mereka pada Nadia. “Kami juga bercerita tentang proses mengandung dan melahirkan, sehingga dia punya dasar untuk mengetahui tentang proses kelahiran seorang anak.”
    Beberapa saat sebelum Nadia masuk pra sekolah, Diena mengajak Nadia berbicara. “Pengetahuan soal proses mengandung dan melahirkan itu saya jadikan basis untuk bercerita soal status adopsinya. Dia jadi mengerti bahwa makna dari adopsi adalah ia tak lahir dari rahim saya, namun kami berdua sangat menyayanginya. Saya bilang ‘You are an adopted child, and we love you.’ Saya pakai kata ‘and’ bukannya ‘but’ untuk menunjukkan betapa kami menyayanginya,” kenang Diena.
    Kata adopsi itu terus diucapkan dalam berbagai kesempatan oleh Diena selama setengah tahun. Entah itu sambil makan bersama, jalan-jalan, sambil membacakan cerita, atau saat me-ngunjungi keluarga lain yang juga memiliki anak adopsi. “Lama kelamaan, otak bawah sadarnya bisa menerima kata adopsi sebagai hal yang biasa saja.”
    Ketika Nadia sudah semakin besar, Diena merasa makin perlu untuk membentuk self image yang kuat pada diri putrinya. Ia masih ingat apa yang terjadi ketika Nadia di usia 6 tahun bertanya soal ibu kandungnya.
“Waktu saya tanya mengapa ia ingin tahu, Nadia bilang dia hanya penasaran. Spontan saya bilang bahwa saya tidak keberatan kalau suatu saat Nadia ingin bertemu ibunya. Saya juga tekan-kan bahwa ibunya pastilah seorang wanita yang baik dan cantik, karena ia juga memiliki anak sebaik dan secantik Nadia. ”
    Langkah yang diambil Diena ternyata memang tepat. Nadia kini tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri. Self image dan self esteem yang kuat, membuatnya sangat tahan banting dalam menghadapi gunjingan miring yang terkadang muncul dari teman-temannya. “Pernah suatu kali ada yang usil, menanyakan apa Nadia tahu kalau dia anak adopsi. Nadia dengan cueknya menjawab: ‘I know… so what?’. Teman yang usil itu pun, langsung bungkam. Hahaha…,” kata Diena geli.
    Walau sudah cukup mempersiapkan diri, Diena mengaku ia tetap sempat merasa sedih ketika harus memberitahu Nadia di usia yang begitu dini. “Saya sempat menangis, lho… berat rasanya, tapi demi kebaikan Nadia, kami harus melakukannya. Sekarang, lega rasanya melihat kami bisa melaluinya dengan baik. Suatu saat nanti kalau dia ingin bertemu ibunya, saya tetap akan bersikap positif dan mendukung.”


Kapankah usia yang Ideal?
    Dr. Steven L. Nickman dari Child Psychiatric Clinic di Massachusetts General Hospital, Boston, menganjurkan usia yang ideal adalah antara 6-8 tahun. Pada saat itu anak umumnya sudah memiliki dasar hubungan yang kuat dengan keluarga adopsinya sehingga tak merasa terancam saat harus memahami soal adopsi.  Nickman tak menganjurkan orangtua menunggu sampai anak memasuki masa dewasa untuk memberitahu status adopsi. “Berterus terang pada usia itu akan sangat merusak self-esteem si anak, juga kepercayaan mereka pada orang tua,” tegas Nickman.
    Sedikit berbeda dengan Nickman, Denrich Suryadi, M. Psi dari Pusat Bimbingan dan Konsultasi Psikologi Universitas Tarumanagara beranggapan, usia ideal bukanlah dasar yang tepat dalam mengungkapkan status adopsi anak. Hal itu disebabkan setiap anak memiliki perkembangan kematangan psikologis masing-masing. Dalam hal ini, orangtualah yang perlu mengamati dan melihat taraf kesiapan anak untuk menerima kenyataan yang sebenarnya.
Langkah-langkah menjatuhkan ‘bom’ Ibarat sebuah bom yang dijatuhkan dari pesawat, menyampaikan pada anak bahwa ia adalah anak adopsi sungguh mengguncang dunianya. Denrich menganjurkan beberapa langkah berikut:
  • Memperhatikan kondisi yang mungkin terjadi, serta konsekuensi positif-negatif yang mungkin terjadi.
  • Perhatikan juga kesiapan psikologis anak untuk menerima kenyataan tersebut.
  • Siapkan langkah-langkah untuk selalu memperhatikan anak karena mereka akan cenderung menjadi lebih sensitif setelah mengetahui statusnya sebagai anak adopsi.
  • Orangtua mesti bersikap adil serta berempati terhadap perasaan anak, terutama apabila ia punya kakak/ adik yang merupakan anak biologis dari orangtuanya. Siapkan pula kakak/ adik untuk tidak bersikap negatif terhadap anak adopsi tersebut. Langkah keempat ini memang sulit dan harus dipersiapkan dengan baik sebelumnya.
  • Beritahukan serta minta bantuan anggota keluarga besar untuk membantu proses ‘penyembuhan batin’ si anak setelah mengetahui kabar tersebut. Cukup dengan tidak mengubah bentuk perhatian, serta bersikap lebih peka terhadap anak.
  • Terakhir, bila orangtua membutuhkan pendampingan lebih pada si anak, ada baiknya meminta bantuan profesional dari seorang psikolog yang bepengalaman. 
  •  

    Tinggalkan komentar

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.