“Kamu kan anak pungut”


http://lylies-myblog.blogspot.com/2011/04/aku-anak-adopsi.html

Nama aku Lylies, asal Medan. Saat ini aku berusia 25 tahun. Aku adalah anak adopsi. Bukan tujuan aku untuk berkeluh kesah dengan menulis kisahku ini. Tapi  aku sungguh berharap kisahku ini dapat dibaca oleh mereka yang berniat untuk mengadopsi anak dan akhirnya mengetahui bagaimana pemikiran yang ada pada diri anak mengenai hidupnya sebagai anak adopsi, yang selama ini tidak mungkin mereka mau membicarakan hal ini dengan orang lain, terutama kepada orang tua angkatnya sendiri.

Aku ingat waktu aku masih kelas 5 SD, aku main ke rumah temanku, kemudian bertemu dengan ibunya. Tiba-tiba ibunya menatap mataku lekat-lekat dan bicara, “Kamu kan anak pungut.” Setelah itu dia diam dan memperhatikan ku, seolah-olah menunggu dan sangat penasaran dengan reaksiku. Aku sangat benci kalau mengingat kembali saat itu, bukan karena aku baru tahu bahwa aku anak adopsi, tapi karena aku bingung harus bagaimana bersikap dengan pernyataan itu. Dalam benakku aku bertanya-tanya, apakah salah kalau aku anak adopsi. Sejak itulah aku mulai tidak suka dengan statusku sebagai anak adopsi dan merasa kurang percaya diri. Dan sejak itulah pula aku selalu merasa tidak nyaman kalau beradu pandang dengan mata orang lain.

Pada umur sekitar 9 tahun aku sudah tahu kalau aku bukan anak kandung dalam keluargaku, dan aku mengetahuinya untuk pertama kali bukan dari orang tua adopsiku, tapi justru dari saudara kandungku. Sepengetahuanku sebelum mereka menikah, ibu adopsiku adalah orang yang lumayan kaya, sedangkan ayah adopsiku adalah orang yang memang berasal dari keluarga yang kurang. Mereka dicomblangin saat mereka masing-masing hampir berusia 40 tahun. Karena itu mereka tidak punya anak kandung dan akhirnya aku sejak bayi dipisahkan dari adik perempuan ibu adopsiku,… ya, ibu adopsiku sebenarnya adalah bibiku, kakak dari ibu kandungku. Akhirnya, aku menjadi anak satu-satunya dalam keluarga ini.

Aku memiliki 8 saudara kandung, aku nomor 7. Ayah kandungku adalah orang yang menafkahi kelurganya dengan sebuah toko seni. Aku menyapanya paman, bukan ayah, karena sudah “dibiasakan” oleh ibu adopsiku sejak kecil. Sebenarnya sudah sejak dari awal ibu adopsiku ingin merahasiakan perihal aku yang diadopsi, tapi salah satu kakak kandungku memberituhuku waktu aku berkunjung ke rumah ortu kandungku. Aku tidak ingat  bagaimana reaksiku saat itu, karena aku masih kecil. Yang jelas aku terus mengingatnya dalam pikiranku dan aku tidak berani menanyakannya kepada mereka, baik ortu kandung maupun ortu adopsi, karena aku takut ketahuan mengetahui rahasia mereka (sebuah pemikiran yang polos sebagai anak kecil). Baru  setelah agak besar (masih di SD) aku bertanya pada ibu adopsiku, “Ma, kata teman-temanku aku adalah anak yang diadopsi, benar nggak sih Ma?” Ibu adopsiku hanya menjawab, “Siapa yang bilang begitu? Mereka membohongimu.” Mendengar jawaban yang tidak jujur begitu, akhirnya aku tidak pernah mau menanyakan hal ini lagi. Kini aku tau dia memang bermaksud untuk membohongi aku, entah sampai kapan. Hal ini kurasakan sangat tidak adil bagiku.
Tidak berapa lama setelah itu, di sekolah aku diteriakin “anak pungut….anak pungut” oleh murid-murid laki-laki yang jahil, aku menangis tapi teman-teman yang lain melaporkan kepada guru, akhirnya murid-murid itu “diamankan”. Kemudian seorang ibu guru memelukku dan membiarkan aku menangis membasahi bajunya, kemudian dia berkata, “Tidak apa-apa jadi anak pungut, itu berarti banyak yang menginginkanmu.” Sekembalinya ke rumah, aku tidak dapat mengatakan kejadian hari itu kepada orang tua adopsiku, aku menyimpan peristiwa ini di dalam hatiku sendiri karena ini menyangkut sikap mereka yang tidak mau terus terang kepada aku mengenai jati diriku yang sebenarnya. Aku kembali menangis sendirian di kamar. Inilah kesepian yang harus dihadapi oleh seorang anak adopsi.

Aku masih ingat waktu kecil aku sangat senang apabila berkunjung ke rumah orang tua kandungku, karena disana aku bisa berkumpul dan bermain dengan saudara/i kandungku yang banyak, dan akan sangat sedih bila harus pulang ke rumah ortu adopsiku, karena aku harus berpisah dengan mereka. Satu-satunya hal yang pernah membuat aku meneteskan air mata di sana adalah ketika aku melihat foto-foto mereka sekeluarga. Kebanyakan foto-foto itu adalah foto bersama seluruh anggota keluarga dan Setiap keping foto yang aku lihat itu adalah sebuah potret kebersamaan yang bahagia, tanpa aku di dalamnya.
Kerinduan akan kebersamaan itu terus ada sampai aku dewasa, bahkan berulang kali aku memikirkan untuk menyapa kembali ayah kandung aku sebagai “Ayah”, bukan “Paman”. Tapi pikiran lain juga bermunculan, bukankah sejak bayi aku sudah diserahkan ke keluarga lain, jadi kalau dia masih menghendaki aku, harusnya dia yang minta agar aku yang kembali memanggilnya ayah. Sedangkan ibu kandungku sudah meninggal sejak aku kelas 6 SD.
Hal yang paling aku ingat jelas tentang ibu kandungku adalah saat aku berada di rumahnya pada umur sekitar 8 tahun, waktu itu dia sedang menghanduki aku selepas aku mandi kemudian dia sambil setengah jongkok menyisir rambutku, saat itulah aku menatap wajahnya lama dan seolah-olah aku merekam  pandanganku ke dalam memori di otakku. Jadi setiap aku mengingat kembali akan dirinya, wajahnya yang sedang menyisir rambutku dengan lembut itulah yang pasti muncul dalam pikiranku.

Sebenarnya pada saat seseorang mengadopsi seorang anak, dia bukan saja memisahkan secara fisik seorang anak dengan orang tuanya, tapi dia juga menghancurkan ikatan emosional yang seharusnya terbentuk secara alami apabila ada interaksi yang terus menerus antara si anak dengan orangtuanya, atau antara si anak dengan saudara/i-nya. Karena itu, aku bisa maklum, walaupun sebenarnya sedih ketika suatu kesempatan kakak kandung aku mengenalkan aku kepada temannya dengan menyebut aku sebagai sepupu, anak dari bibinya, bukan sebagai adik kandungnya. Aku tetap berusaha tersenyum walaupun patah hati.
Aku punya seorang teman yang juga adalah seorang anak adopsi. Dia bahkan tidak tahu asal usul dirinya sendiri. Dia mengetahui bahwa dirinya adalah anak adopsi juga dari orang di luar keluarganya, karena orang tuanya juga bermaksud untuk merahasiakannya. Karena merasa tidak jelas dengan jati dirinya, dia pernah mencoba mencari informasi mengenai asal usul keluarga kandungnya, namun tidak berhasil. Tapi tidak lama waktu berselang, rupanya takdir memang hendak mempertemukan dia dengan orang tua kandungnya. Tidak disangka-sangka rupanya kakak perempuan dari teman saya  itu juga meminta kepada suaminya untuk mencari adik kandungnya yang sejak kecil telah diserahkan ke keluarga
Pertanyaannya adalah kira-kira bagaimana suasana saat-saat perjumpaan kembali antara si anak dengan ibu kandungnya itu setelah sekian tahun berpisah? Jangan bayangkan bahwa pertemuan itu akan diselingi air mata, penuh keharuan, atau suasana yang sangat dramatis dan penuh keakraban juga kebahagiaan. Realitanya adalah sangat jauh dari itu semua. Suasananya bahkan sangat kaku, teman aku ragu untuk memanggilnya ibu, dan sang ibu pun terlihat sopan seperti sedang menghadapi orang asing. Kemana hilangnya ikatan emosi antara ibu dan anak? Jawabannya sudah hancur sejak mereka berpisah. Sekembalinya teman aku dari pertemuan itu, tampangnya lebih menyiratkan kebingungan daripada kelegaan karena telah tercapai tujuan yang selama ini dirindukannya.

Kembali ke kisah aku sendiri, Di dalam keluarga, ibu adopsiku adalah seorang petani yang cukup sukses bahkan ketika dia masih lajang. Sedangkan ayah adopsiku adalah orang yang sangat pasif (dan pesimis). Bahkan setelah mereka menikah, ayah adopsiku tidak mau campur tangan dalam mengelola pertanian ibu adopsiku. Aku masih ingat dia suka menyewa  dan menonton video film-film serial silat dan juga film-film porno sampai larut malam dan bangun bangun setelah jam 11 siang. Sungguh seseorang yang tidak pantas untuk disebut sebagai kepala keluarga. Dalam keseharian , dia lebih pasif lagi terhadap aku, jadi aku lebih dekat dengan ibu adopsiku ketimbang dia. Hal ini selalu menjadi pertanyaan besar dalam pikiranku kenapa dia sama sekali acuh tak acuh sama aku. Pernah suatu saat waktu aku masih kecil, karena aku berbuat salah, dia menunjuk jarinya ke aku tapi membentak ke ibu adopsiku sambil mengeluarkan kata-kata : “Membesarkan anak orang lain, setelah besar entah berguna atau tidak?” Aku menangis dan rasanya ingin kabur saja dari rumah itu.

Sedangkan, ibu adopsiku adalah pribadi yang suka menolong orang. Dia bahkan pernah kasih uang sebagai modal untuk usaha kepada adik-adik ayah adopsiku sehingga sampai mereka berhasil. Selain itu,  ibu angkatku mempunyai satu ruko yang dipinjami untuk salah satu adiknya buka usaha. Adiknya yang satu ini tidak pernah menyukai aku sejak aku kecil. Dia bahkan pernah ngomong langsung ke aku kalau aku bukanlah orang yang satu marga dengan dia (maksudnya menyindir aku sebagi anak adopsi dari luar kekerabatannya). Tapi aku tidak pernah peduli dengan omongannya karena aku sudah lama belajar untuk tidak menuntut penerimaan dari siapapun mengenai jati diriku, lagipula semua saudara ayah angkatku memang punya tabiat suka merendahkan orang, jadi aku memakluminya  saja.

Waktu berlalu, dan usaha dari adik-adik ayah adopsiku semakin berkembang, dan sekarang justru ekonomi dalam keluargaku yang merosot, karena semua tanaman di kebun ibu adopsiku mati terkena wabah. Setelah tamat dari SMU, aku berkeinginan untuk menunjang kembali keuangan keluarga dengan buka usaha dan ingin menggunakan kembali toko milik ibu adopsiku yang selama ini dipakai oleh adik dari ayah adopsiku, tapi  malah ayah adopsiku bersikukuh agar adiknyalah yang harus tetap memanfaatkan toko itu. Dia malah mengejek aku sebagai anak yang tidak berguna dan tidak bisa apa-apa. Mengingat tabiat mereka bersaudara yang memang suka merendahkan orang, aku tidak banyak ambil pusing dengan perkataannya. Akhirnya aku terpaksa ke jakarta untuk bersusah payah kerja dengan orang.
Sampai titik ini aku masih menjalani hari-hari hidupku dengan kesibukanku sendiri sebagai karyawati. Persoalan mengenai ruko masih terus menjadi ganjalan dalam hatiku, karena sepertinya ayah adopsiku lebih memilih untuk mendukung adiknya sendiri ketimbang aku. Mengingat adalah tidak baik kalau sebagai anak terus mempertanyakan milik orang tua tatkala mereka masih sehat, maka ganjalan dalam hatiku itu hanya dapat aku diamkan saja.
Tapi pada suatu saat sebuah kejadian yang diawali oleh kematian nenek (ibu dari ayah adopsiku) benar-benar membuka mataku dan mengungkapkan apa niat tersembunyi yang ada dalam hati ayah adopsiku.

Pada saat pembuatan makam nenekku, terjadi ketidaksepakatan ide antara ayah angkatku dengan adiknya yang selama ini mendiami toko ibu adopsiku. Ayah adopsiku ingin membuat sebuah altar thu thi pak kung (dewa bumi) pada makan nenekku, sebagai tradisi yang sudah umum pada kalangan kong hu cu.  Tetapi adiknya tidak menyetujui karena walaupun nenek tadinya beragama kong hu cu, tapi sebelum meninggal sudah pindah agama menjadi katholik.
Percecokan memanas, ayah adopsiku mengatakan bahwa dialah anak yang sulung, jadi seharusnya keputusannyalah yang berlaku, adiknya tidak dapat menerima dan membentak ayah adopsiku di depan saudara/i  dan para kerabat yang lain dengan kata “Jadi anak sulung apa gunanya, kalau kamu memang berguna,  kenapa hidupmu harus sampai ada hari ini?”  Dalam pengertian kalangan kami, kata “kenapa hidupmu harus sampai ada hari ini” adalah sebuah hinaan yang bermaksud untuk menunjukkan keadaan hidup yang hina/rendah karena ketidakmampuannya sendiri. Dan memang pada saat itu keluarga kami sedang mengalami kesulitan keuangan. Gajiku yang kusisihkan untuk dikirim ke rumah juga tidak bisa disebut mencukupi.

Sejak saat itulah ayah angkatku baru menyadari bahwa selama ini dukungannya kepada adiknya itu tidak dihargai, malah sebaliknya si adik merendahkan dia setelah mereka lebih sukses sekarang ini. Akhirnya, dalam keadaan marah karena merasa dihina, seketika itu juga dia meneleponku agar aku pulang ke rumah untuk mengambil alih ruko itu.
Sekembalinya aku ke rumah, aku baru tahu ternyata sertifikat ruko itu telah dikasih ke adiknya oleh ayah adopsiku sebelum kematian nenekku. Menurut cerita ibu, dia sendiri tidak tau kalau sertifikat itu telah berada di tangan adiknya. Rupanya ayah adopsikulah yang telah menyerahkan sertifikat ruko itu secara diam-diam kepada adiknya karena dulu aku pernah berkeinginan untuk mengambil kembali ruko tersebut dan juga karena ibu adopsiku pernah punya rencana untuk membaliknamakan sertifikat itu dari namanya menjadi namaku. Ternyata dari awal ayah adopsiku telah berniat untuk memberikan ruko itu kepada adiknya.
Kemudian, semua hal ini aku ceritakan kepada pamanku (kakak dari ibu adopsiku), dan aku mengungkapkan kekesalanku terhadap ayah adopsiku yang dulunya lebih mendukung adiknya sendiri ketimbang aku. Mungkin karena melihat kebingungan aku dalam masalah ini, akhirnya dia menceritakan kisah masa lalu dalam keluargaku ini.

Dia bilang bahwa setelah kedua orang tua adopsiku menikah, mereka sudah yakin bahwa mereka tidak akan punya anak kandung karena usianya yang sudah terlanjur. Namun mereka takut dimasa tuanya tidak punya sandaran, karena itu mereka memutuskan untuk mengambil anak. Ibu adopsiku mengusulkan agar aku (anak dari adiknya) yang dibawa, namun ayah adopsiku tidak menghendaki aku diadopsi kedalam rumah tangganya karena dia sudah punya pilihan lain, yaitu keponakannya sendiri, anak dari adiknya yang mendiami ruko ibu adopsiku. Alasan penolakannya hanyalah semata-mata dia menghendaki orang yang semarga dengannya, sedangkan aku bermarga lain, dan dianggap sebagai “orang luar”. Tapi karena di dalam rumah pengaruh ibu adopsiku yang lebih dominan (mungkin karena dia adalah sumber yang menafkahi keluarga), akhirnya akulah yang diadopsi ke dalam rumah. Walupun akhirnya aku yang dibawa, ayah adopsiku masih menginginkan agar keponakannya itu juga sama-sama diadopsi, namun ibu angkatku menolaknya. Rupanya, hal inilah yang membuat ayah adopsiku diam-diam memendam kebenciannya terhadap aku.

Pamanku melanjutkan, sertifikat itu dikasih kepada adik ayah adopsiku karena mereka (ayah adopsiku dan adiknya) mau memanfaatkan celah hukum yang ada dalam tata hukum di Indonesia. Karena sertifikat itu atas nama ibu adopsiku, tentu saja mereka tidak bisa membaliknamakan sertifikat itu tanpa sepengetahuannya. Namun apabila sertifikat itu ditahan terus sama mereka, maka ibu adopsiku tidak bisa mengganti nama pemilik juga, akan tetapi apabila suatu saat nanti ketika dia telah tiada, maka mereka hanya tinggal mengurus satu masalah lagi, yaitu aku. Mereka tinggal menggugat dan mambuktikan ke pengadilan bahwa aku adalah anak adopsi, bukan anak kandung yang memiliki hak waris. Dengan demikian, maka harapan mereka ruko itu akan menjadi milik mereka.
Tapi tidak disangka perselisihan diantara mereka sendiri malah membuyarkan rencana jahat mereka, dan karena inilah ayah adopsiku berpikir ulang untuk tidak menyerahkan ruko itu kepada adiknya lagi.

Mendengar cerita yang demikian, akhirnya terjawab sudah tanda tanya besar mengapa ayah adopsilku sangat pasif dan tidak terlalu peduli terhadap aku sejak aku kecil sampai sekarang. Kini aku baru mengerti bagaimana nilai dan pandangan ayah adopsiku  terhadap aku. Rupanya setelah sekian lama, dia tetap menganggap aku sebagai orang lain dan lebih cenderung untuk mendukung adiknya sendiri daripada aku. Diam-diam dia dan adiknya takut aset ibu adopsiku  jatuh ke tangan aku yang mereka anggap orang luar, jadi mereka membuat kesepakatan jahat untuk memiliki ruko itu. Dan terus terang aku sangat marah dengan tindakannya  ini.
Akhirnya karena adiknya menahan sertifikat itu dan tidak mau keluar dari ruko itu, kami melaporkan ke polisi. Walaupun bukti sangat memberatkan pihak mereka karena sertifikat itu masih atas nama ibu adopsiku, namun karena polisi telah disuap oleh adiknya, polisi tidak mau memproses laporan kami dan malah mengarahkan kasus ini seolah-olah adalah kasus perdata (sengketa). Kemudian adiknya membawa sertifikat ruko itu pengadilan dan menggugat bahwa sertifikat itu adalah salah. Pengadilan meluluskan gugatannya dan akhirnya proses sidang pun dilakukan, sedangkan laporan kami ke polisi dibekukan.

Kedengarannya memang aneh, seseorang yang jelas-jelas menahan sertifikat yang bukan hak nya dan bukan atas namanya tidak dapat diperkarakan, tetapi malah sertifikat asli yang satu-satunya dapat digugat. Tetapi, itulah moral pejabat dan aparat indonesia…….
Singkat cerita, setelah menjalani proses pengadilan selama 2 tahun, kami memenangkan kasus ini dan ruko itu kembali kepada kami, tapi dengan biaya pengadilan yang sangat mahal dan kami harus mengambil utang yang banyak untuk memenuhinya. Akhirnya kami terpaksa jual ruko itu untuk melunasi utang-utang, dan aku terpaksa kembali lagi ke jakarta untuk kerja dengan orang.
Namun, karena merasa dendam dengan aku, adik ayah adopsiku tidak mau melepaskan aku begitu saja. Untuk melampiaskan kemarahannya, dia telah menyebarkan fitnah pada teman-temanku. Seorang teman baik aku memberitahu bahwa dia mengatakan kepada teman-temanku yang lain : “Kakakku telah salah memungut anak dari keturunan yang bejat, yang menyebabkan sesama saudara mereka menjadi saling berselisih”. Ini adalah fitnah yang benar-benar menyakiti hatiku, apalagi dia mengatakannya kepada teman-teman pergaulanku. Aku bahkan meneteskan air mata ketika menulis ini.


Seandainya bisa memilih, tidak ada anak di permukaan bumi ini yang ingin menjadi anak adopsi. Semua anak ingin tinggal bersama dengan orang tua dan saudara/i kandungnya. Saat seorang anak harus terpisah dari keluarganya sendiri kemudian harus tinggal dan menganggap keluarga barunya itu sebagai keluarga sendiri, itu bukan berarti keluarga barunya itu adalah keluarga pengganti, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa menggantikan posisi ibu, ayah, dan saudara/i kandung di dalam hati si anak itu. Inilah hal utama yang mesti diketahui oleh mereka yang ingin mengadopsi anak. Seperti seorang ibu tiri bijaksana yang mengetahui bahwa tidak mungkin bisa menggantikan posisi ibu kandung di dalam hati si anak tirinya, dia akan mengatakan kepada si anak bahwa dia yakin ibu kandungnya adalah seseorang yang berharga dan penting di hatinya dan tidak akan sanggup dan tidak akan berusaha untuk menggeser tempat ibu kandungnya yang spesial di dalam hidup si anak, demikianlah semestinya keluarga yang mengadopsi berlaku kepada anak adopsinya.
Pembaca, mungkin ada diantara kalian yang ingin mengadopsi anak dengan berbagai alasan. Berikut adalah beberapa contoh alasan yang dikemukakan perihal mengenai tujuannya untuk mengadopsi anak:

  1. Kami tidak bisa memiliki anak karena kesehatan atau usia yang sudah tidak memungkinkan.
  2. Kami tidak ingin melewati hari-hari tua kami dalam kesendirian tanpa anak cucu.
  3. Kami ingin setelah tua kami punya tempat untuk “bersandar”.
  4. Setelah menikah sekian lama, rumah tangga kami terasa sepi dan belum komplit tanpa hadirnya seorang anak.
  5. Sebelumnya kami telah kehilangan anak kandung kami, untuk mengisi kembali kekosongan kami, maka kami bermaksud untuk mengadopsi.
  6. Menurut nasehat orang-orang, kalau mengadopsi anak bisa memancing kesuburan suami/istri sehingga memungkinkan untuk hamil.
  7. Kami Cuma punya satu anak kandung dan istri tidak mungkin hamil lagi, kasihan anak tunggal kami karena tidak memiliki saudara/i yang menemaninya dalam keluarga kami.
  8. Semua anak kami cowok semua (atau cewek semua) sehingga kami ingin punya anak dengan jenis kelamin lain.
  9. Malu sama orang-orang karena setelah sekian lama menikah tidak memiliki anak.
  10. Aku hanya mau menolong anak itu.
  11. ( dan lain-lain…..)

Bagi anda yang bermaksud mengadopsi anak, cobalah tandai satu atau lebih butir yang menjadi jawaban bagi anda mengapa ingin mengadopsi anak, kemukakan juga kalau memiliki alasan lain selain contoh di atas. Sekarang, aku mau tanya satu hal, adakah alasan yang anda pilih yang BERORIENTASI PADA KEPENTINGAN diri si anak yang ingin anda adopsi itu.
Bagaimana? Tersentak bukan? Kebanyakan orang tua yang ingin mengadopsi anak hanya mempertimbangkan kepentingan dirinya sendiri, tanpa memikirkan kepentingan si anak. Bagi yang tidak sempat memedulikan kepentingan si anak,  kepantasannya sebagai calon orang tua adopsi patut dipertanyakan.  Alasan nomor 6 lebih tidak berperikemanusiaan lagi, karena biasanya tidak ada kabar baik bagi si umpan apabila pancingannya berhasil. Bukankah ini yang terjadi apabila kita berharap dan kemudian berhasil memancing seekor ikan?

Aku bukanlah orang yang menentang kegiatan pengadopsian anak. Di sekitar kita masih banyak anak yang terlantar dan tidak memiliki masa depan yang jelas karena berbagai sebab. Sebagian sudah di tampung di panti-panti asuhan, namun sebagian besar lagi masih hidup di jalanan memohon-mohon belas kasihan orang. Anda adalah orang yang berhati mulia apabila masa depan merekalah yang menjadi pertimbangan anda untuk mengadopsi mereka,  daripada kepentingan diri sendiri yang menjadi alasannya. Jadi, aku sangat mendukung apabila ada orang-orang yang mau menyediakan keluarganya sebagai sebuah keluarga bagi mereka.
Aku sendiri adalah anak adopsi dan menurutku sendiri itu membuat aku untuk pantas untuk memberikan beberapa pandangan mengenai proses pengadopsian anak kepada para calon orang tua.

  1. Carilah anak yang benar-benar telah ditelantarkan ataupun kehilangan orang tuanya. Panti asuhan adalah tempat yang paling tepat untuk dituju. Janganlah memisahkan seorang anak dari orangtuanya, walaupun orang tuanya mau menyerahkan anaknya. Kalau Anda beriman (entah anda beragama apapun) anda pasti yakin bahwa adalah tidak baik memutuskan jodoh antara orang tua dengan anaknya yang telah ditakdirkan sebelumnya oleh Tuhan.
  2. Jangan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri kalau mau mengadopsi anak. Pikirkan juga kebahagiaan dan masa depan si anak kelak.
  3. Pengadopsian anak haruslah merupakan keinginan ikhlas dari semua anggota keluarga dalam rumah tangga anda (suami, istri dan mungkin anak yang lain kalau ada). Apabila ada salah satu yang tidak menghendaki, lebih baik batalkan niat anda karena pada akhirnya hasilnnya akan tidak baik pada diri anak yang diadopsi.
  4. Seorang anak (kandung maupun adopsi) tidaklah sama dengan sebuah investasi. Kami bukanlah ternak yang suatu saat nanti akan bermanfaat. Karena itu besarkanlah anak dengan tulus tanpa keinginan untuk membebankan masa tuamu kepada mereka. Aku tidak bermaksud mengajarkan agar seorang anak tidak perlu balas budi kepada orang tuanya kelak. Maksud aku, seorang anak waktu baru dilahirkan adalah seperti selembar kertas putih kosong yang masih polos. Sebagai orang tua dialah yang harus melukis pada kertas tersebut. Apabila orangtuannya melukiskan hewan pada kertas itu, kemungkinan jadilah dia sebuah poster binatang. Namun apabila si orang tua melukiskan bunga, jadilah dia sebuah poster kembang yang indah. Apabila didikan anda benar, atau anda bisa menanamkan nilai-nilai welas asih pada diri si anak, mengajarkan kepadanya untuk tidak seperti kacang yang melupakan kulit, tanpa anda minta pun mereka ingin berbalas budi dan ingin tinggal membahagiakan anda sampai akhir hayatmu.
  5. Jangan merahasiakan kepada si anak mengenai dirinya yang diadopsi. Terus teranglah kepadanya sedini mungkin. Kalau anda enggan untuk memberitahukan kepadanya, suatu saat dia juga pasti tahu dari mulut orang lain. Ini akibatnya lebih buruk karena terkesan anda bukanlah orangtua yang jujur dan seolah-olah selama ini si anak hidup dalam sebuah jebakan.
  6. Jika orang tua kandung si anak masih ada, jangan merahasiakan keberadaan mereka dan jangan halangi apabila si anak ingin bertemu dengan mereka, biarkan mereka menjalin kembali hubungan yang mungkin telah lama terputus. Apabila si anak ingin memanggil kembali Papa/Mama kepada orang tuanya, anda harus mengikhlaskannya, karena – ini adalah hal yang paling dirindukannya oleh hatinya, walaupun tidak mungkin dia mau memberitahukan kepada anda karena biasanya si anak tidak ingin melukai hati orang tua yang sebelumnya telah mencukupi kebutuhannya. Ya, percayalah, si anak adopsi itu juga bisa memikirkan siapa yang menghidupi dirinya selama ini.

Apakah ini seperti syarat yang sangat berat bagi kalian yang punya rencana untuk mengadopsi anak? Ingatlah, tulisan ini bukanlah ilmu atau teori dari seorang ilmuwan spesialis ataupun psikolog ahli dari manapun, ini hanyalah curahan hati dari seorang anak adopsi dan hal ini membuat tulisan ini lebih masuk akal daripada teori manapun.
Bagi sebagian anak adopsi yang jati diri masa lalunya telah dikubur dan dirahasiakan darimu, sungguh, aku mengerti pemberontakan bisu yang ada dalam dirimu. Aku mengerti betapa rindunya (ataupun marahnya) hatimu ketika memikirkan papa dan mama kandung kalian. Aku tidak bisa memberi nasehat ataupun kata-kata penghiburan untukmu, tapi aku akan menceritakan sedikit lebih banyak mengenai hidupku.

Suatu hari, aku curhat dengan ibu dari seorang teman baikku. Aku mengeluhkan mengenai ayah adopsiku yang tidak peduli kepada aku karena memang dia tidak pernah mau menganggap aku sebagai seorang anak. Aku juga mengeluhkan orang tua kandungku yang tega melepaskan aku dan seandainya sejak bayi aku bisa memilih, aku tidak ingin jadi “anak pungut”. Ibu temanku yang bijaksana mengatakan, “Memang tidak semua orang bisa menjadi orang tua yang baik, mereka juga adalah manusia biasa yang punya kesalahannya masing-masing, tapi sebagai seorang anak bukan tugas kita untuk menghakimi orang tua kita sendiri. Mengenai bagaimana orang tua kita, itu tidak penting, yang penting sebagai seorang anak kita hanya perlu berlaku sebagai anak yang baik, itu saja sudah cukup.”
Aku tidak tahu apakah kata ibu dari temanku itu berarti untuk kalian, tapi kata-kata itulah yang telah menjadi pegangan aku selama ini.


http://lylies-myblog.blogspot.com/2011/04/aku-anak-adopsi.html

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: