MA, AKU ANAK PUNGUT, YA?

 http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/04/06/ma-aku-anak-pungut-ya/

Sebagian besar pasangan mengharapkan keturunan dari pernikahannya. Kalau sudah lama menikah tanpa anak, ada keinginan untuk mengadopsi anak. Kapan sebaiknya memberitahu sang anak bahwa dia adalah anak adopsi?

Kita cukup sering mendengar kisah lain dari anak-anak yang diadopsi. Ada juga keluarga yang sengaja mengangkat anak untuk ”mancing”, supaya lahir anak kandung. Entah bagaimana menjelaskan mitos ini secara ilmiah, tetapi dalam beberapa kasus memang, setelah punya anak angkat, sang ibu hamil. Tidak lama kemudian lahirlah anak kedua, yang notabene anak kandung. Namun problem muncul ketika ternyata kedua anak ini punya karakter dan wajah yang sangat berbeda.


Kasus Ina

Ina seorang remaja 14 tahun, kelas 3 SMP, suatu kali diajak orangtuanya menemui seorang konselor. Masalahnya belakangan ini Ina suka diajak teman cowoknya, seorang siswa SMU. Pacar? Kalau ditanya Ina selalu jawab, ”Cuma teman.” Yang jadi masalah buat mamanya, Ina diajak clubbing alias dugem. Kalau dilarang, Ina ngambek. Terkadang dia pergi juga, nggak peduli pada larangan mamanya. Orangtua mana yang tidak kuatir?

Beberapa hari lalu, iseng-iseng mamanya membuka HP Ina. Mamanya terkejut karena galery HP berisi gambar-gambar porno. Menurut Ina temannya itulah yang install gambar-gambar itu ke HP anaknya. Mamanya marah. HP Ina disita. Dia juga tidak diizinkan bertemu teman cowok-nya.

Saya memandang Ina. Dia remaja, berkulit agak gelap dan sedikit montok. Berbeda dengan mamanya yang langsing dan terlihat cantik di usia tengah baya. Mungkin ibu ini merasakan sesuatu melalui pandangan saya. Beberapa saat setelah saya berbicara masing-masing dengan Ina, kemudian orangtuanya, saya mendengar rahasia mereka, ”Ina itu anak adopsi, Bu,” mamanya berkata, ”kami mengadopsi mereka lewat sebuah panti asuhan waktu Ina berusia dua bulan. Pihak panti tidak bersedia memberitahu latar belakang ibu kandung Ina. Apakah ini mempengaruhi kebiasan dan karakter Ina?”

Ina baru tahu bahwa dia anak adopsi saat dia beranjak remaja. Ibu-bapak angkatnya terpaksa memberitahu Ina karena beberapa temannya membandingkan Ina dengan orangtuanya. Mula-mula Ina tidak peduli, tetapi mungkin tekanan cukup kuat sehingga dia bertanya. ”Tidak ada jalan lain. Dia membawa bukti-bukti fisik, ”cerita mamanya. ”Akhirnya kami memang memberitahu dia bagaimana dia bisa bersama kami. Saya juga menyatakan bahwa Ina tetap anak kami dan kami sangat menyayangi dia. Tapi rupanya dia kecewa. Sejak itu kami merasakan dia makin tertutup, sering jalan dengan temannya dan ngambek kalau maunya nggak dituruti.”

Grace
Saya bertemu Grace dan mamanya beberapa waktu lalu. Dia seorang gadis cilik yang mandiri, berani, sopan, dan menyenangkan. Usianya waktu itu 8 tahun. Saya cukup surprised saat ibunya mengatakan bahwa Grace datang ke rumah mereka ketika berusia tiga setengah tahun. ”Jadi, waktu itu mama umurnya berapa, ya?” komentar Grace yang ikut mendengarkan percakapan kami.

Di kesempatan lain Mama Grace menjelaskan, dia memberitahu Grace soal ini saat anak itu berusia empat tahun. Mula-mula Grace nampaknya nggak begitu mengerti artinya, karena beberapa kali setelah itu dia masih terus bertanya. Tapi sejak lima tahun sampai sekarang Grace tahu, dia bukan anak kandung mama-papanya.

Yang Perlu Diperhatikan
Dari percakapan saya dengan mama Grace ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kita mengadopsi anak.
Pertama, walaupun diperkirakan ada karakter bawaan orangtua asal yang kurang baik dalam diri anak itu, kita percaya bahwa ada anugerah Tuhan untuk mengubahnya. Tugas kita adalah membimbing anak itu mengenal Tuhan pada waktunya.

Kedua, sampaikan pada anak bahwa dia bukanlah anak yang kita lahirkan, melainkan anak yang diberikan Tuhan dalam keluarga kita. Beritahukan kenyataan ini sewaktu anak masih kecil dan masih bergantung pada kita sebagai orangtua yang mengasuhnya. Hal ini dapat disampaikan berulang-kali (jika dia menanyakan terus), sampai dia mengerti maksudnya. Jelaskan dengan contoh-contoh dan cerita. Gunakan istilah positif dalam berbicara. Misalnya ”anak angkat”, bukan ”anak pungut”. Usahakan agar anak benar-benar tahu bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi dia.

Ketiga, jika kita tidak tahu riwayat keluarga asalnya, kita harus hati-hati dengan berbagai penyakit yang mungkin ada dan bersifat genetik, misalnya alergi dan kesehatan mental. Perhatian ekstra memang harus diberikan sampai kita mendapat konfirmasi dari tenaga ahli.

Keempat, walaupun tidak mudah, kita harus menyiapkan dia untuk menyambut adik lain yang akan hadir dalam keluarga kita.

Loosing Isaiah

Ketika ingin menulis artikel ini, saya teringat film ”Loosing Isaiah”. Siapa pun Anda yang mengadopsi anak perlu menonton film tersebut. Dikisahkan, Isaiah seorang anak kulit hitam yang lahir dari seorang ibu tunggal yang pecandu. Saat mamanya sedang sakaw di tempat pembuangan sampah, Isaiah terangkut truk sampah. Dalam keadaan sekarat dia ditemukan oleh pemulung dan dibawa ke rumah sakit pemerintah. Seorang dokter yang bertugas merawatnya jatuh hati padanya. Dokter ini membawa Isaiah ke rumahnya dan merawat bayi mungil ini seperti anaknya sendiri.

Namun apa yang terjadi. Ibu kandung yang pecandu ini berusaha merebut buah hatinya. Untuk itu dia masuk dalam pusat rehabilitasi, lalu berusaha mencari pekerjaan. Setelah mapan dan merasa mampu, dia mengunjungi Isaiah di sekolahnya. Dia bersyukur melihat Isaiah yang sehat, pandai, dan tampan. Di dukung oleh keluarga kulit hitam di lingkungannya, ibu kandung Isaiah menggugat ibu angkat anaknya. Pengadilan mengabulkan permintaan sang ibu kandung. Maka Isaiah pun berpindah tangan.

Namun Isaiah yang saat itu berusia tiga tahun sudah lupa pada sosok wanita yang tidak dikenalnya itu. Dia menangis dan menyatakan protesnya dengan tidak mau makan, saat dalam asuhan ibu kandungnya. Cerita ini berakhir dengan bahagia. Isaiah akhirnya dikembalikan kepada ibu angkatnya. Kasih kedua ibu ini pada Isaiah membuatnya sekarang punya dua ibu.

Dalam hidup seorang anak, apakah kandung atau anak asuh, yang dia butuhkan adalah cinta yang tulus, terus-menerus dan tanpa syarat dari si pengasuh. Semoga ini jadi perenungan bagi setiap kita para orangtua. (*)

Roswitha Ndraha
http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2011/04/06/ma-aku-anak-pungut-ya/

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: