Suami Tak Berterus Terang Soal Anak Angkat


Hampir setahun ini saya (27) menikahi duda (45) dengan dua anak. Kami sendiri belum dikaruniai anak. Suami tak mendapat keturunan dari perkawinan pertama, karena istrinya punya masalah. Namun, ia kemudian mengadopsi 2 anak (usia 11 dan 9 tahun).

Yang menjadi masalah, setiap kali teman bertanya soal anak, saya menjawab belum punya. Sementara suami menjawab bahwa ia sudah punya 2 anak, namun tak berterus-terang bahwa keduanya adalah anak angkat. Alasannya, dia tak mau orang lain tahu, atau lebih buruk lagi, mengatakan fakta itu kepada anak­anaknya. Dia berniat membuka rahasia itu nanti setelah kedua anak itu dewasa.

Apa yang sebaiknya saya lakukan, Bu? Apakah saya harus menjawab sudah punya 2 anak, padahal kami baru menikah setahun. Atau, haruskah saya mengaku bahwa mereka itu anak angkat, padahal suami sepertinya tak ingin ada orang lain yang tahu tentang hal ini. Atau, haruskah saya katakan bahwa suami sudah punya anak kandung dari perkawinan pertamanya?

Bukannya saya tak mau menerima anak­anak dalam kehidupan kami, Bu. Saya pun tahu, bisa saja jiwa anak-anak itu akan terganggu begitu tahu bahwa mereka anak angkat, sebelum waktunya. Saya hanya ingin seia-sekata dengan suami. Apalagi menyangkut masalah anak. Apa nanti kata orang, suami-istri, kok bicaranya lain­lain. Terima kasih. 


Jawaban :

Pertanyaan-pertanyaan yang datang kepada Anda sebenarnya adalah pertanyaan standar. Artinya, dalam basa-basi pergaulan, sepasang suami­istri pastilah ditanya, “Berapa anaknya?” Lanjutannya adalah, berapa laki-laki dan berapa perempuan, lalu berapa pula umurnya? Sangat tidak lazim bukan, bila ada orang bertanya pada Anda, “Eh, kapan kawin dengan suami?”

Dan, saya yakin pula, tidak semua orang yang menanyakan pertanyaan standar pada Anda itu tahu pula bahwa Anda baru setahun menikah. Segala kerepotan menjawab lalu muncul, karena Anda bersikap seolah-olah setiap orang tahu seluk-beluk perkawinan Anda, maupun perkawinan pertama suami. Jadi, sebenarnya yang punya masalah adalah Anda. Bisa jadi, Anda belum punya “tempat” bagi anak-anak angkat suami, atau sekedar rancu saja tentang penyebutan status mereka?

Jalan keluar sebenarnya sangat mudah, yaitu berpulang pada bagaimana cara Anda menerima suami, lengkap dengan seluruh kesejarahan dan masa lalunya, atau Anda hanya mau menerima beberapa fakta saja tentang dirinya dan mengabaikan fakta yang kurang berkenan di hati Anda? Bila pilihannya adalah yang pertama, Anda akan mengatakan kepada diri Anda, adopsi atau kandung, toh mereka anak Anda juga.

Sementara, bila adopsi kedua anak itu merupakan sesuatu yang Anda tak inginkan ada di riwayat suami, maka Anda hanya perlu mengatakan, “Oh, kami baru saja menikah, jadi belum diberi momongan.” Sayangnya, Anda tidak menceritakan apakah anak-anak ikut ayah atau ibunya. Jawaban yang terakhir ini sebenarnya harus dikonfirmasikan lagi kepada suami, apakah akan membuatnya merasa tidak nyaman di hati? Bagaimanapun, sebagai istrinya Anda pasti ingin menjaga agar hatinya tidak terluka setiap ada pertanyaan di seputar anak, bukan?

Mengingat Anda pemeluk Islam, berlakulah seperti layaknya seorang Muslim yang mengangkat anak, dan ini bisa Anda tanyakan pada ulama terdekat. Beliau pasti akan mengatakan bagaimana hukum Islam mengatur tentang anak angkat ini. Tidak enak kalau memakai ukuran manusia, tetapi Allah pasti Maha Tahu, kenapa Ia menyuruh kita untuk tidak menyembunyikan asal-usul anak angkat kita.

Banyak orang tua angkat yang merasa demikian berat hati menceritakan pada anaknya bahwa mereka tidak dilahirkan, melainkan diadopsi. Tetapi, percaya deh, Bu N, menyembunyikan fakta ini jauh lebih membebani diri ketimbang berterus-terang. Bila suami yakin bahwa ia memberi kasih sayang penuh pada anaknya, tak perlu takut anak akan berpaling saat ia tahu statusnya.

Tetapi, sekali lagi, ini tak pernah mudah, apalagi kalau si Ibu (mantan istri suami) juga tak sepakat. Wah, bisa jadi ajang pertempuran baru nantinya. “Kamu sih enak sudah punya istri lagi, sementara saya, yang saya punya cuma anak-anak ini. Bagaimana kalau setelah mereka tahu mereka itu anak angkat, lalu mereka tak sayang lagi pada saya?” kira-kira begitu bunyi pernyataannya.

Maka, kalau boleh saya sarankan, jangan campuri masalah yang satu ini. Serahkan saja pada suami untuk memutuskan, kapan ia akan bercerita pada anak-anaknya. Sementara Anda wajibh mengingatkanya bahwa ada hukum yang berlaku. Akhirnya, saya ingin membagikan (sharing, kata kerennya) pengalaman yang saya peroleh karena pernikahan saya dengan suami saya yang bernama Hassan ini.

Sekarang, kalau ada orang bertanya pada saya, akan saya jawab bahwa saya punya 3 anak. Kalau orang itu tak bertanya lebih lanjut, saya pun akan diam. Tetapi, kalau ia adalah kenalan lama suami, biasanya ia akan menegaskan pada saya, “Oh, dapat dari Anda 2 anak, ya?” Barulah saya akan bicara bahwa dari Pak Hassan, saya tidak mendapat anak.

Orang yang memahami etiket pergaulan, biasanya akan berhenti di sini karena ia pasti sudah memperoleh kejelasan bahwa kami berdua ada di perkawinan kedua, dan saya memiliki 2 anak dari perkawinan terdahulu.

Adakah orang yang tak punya etiket dalam bertanya? Bukan hanya ada, malahan banyak! Nah, kalau mereka mengejar saya seperti seorang jaksa bertanya pada terdakwa, saya akan katakan terus-terang bahwa saya keberatan membicarakan topik itu dan mengajaknya beralih ke topik lain.

Kalau masih “nekat” juga, biasanya saya akan tersenyum dan menatap langsung ke matanya tanpa berkata apa-apa. Biasanya, sih, Bu N, orang sejenis ini akan “mundur teratur” bila kita sudah menampilkan wajah dan tatapan mata seperti itu.

Tetapi, kita juga harus bisa memisahkannya dari orang-orang yang hanya sesekali bertemu suami di masa lalu, karena biasanya sejenak ia akan mengira kita adalah si mantan istri. Jangan marah atau tersinggung, anggap saja sesuatu yang lucu, karena dengan mimik muka tertawa, ketika menjelaskan bahwa kita bukan sosok yang ia maksud, kekeliruan ini lalu terasa lumrah saja. Dengan demikian, dia juga tak terbebani oleh rasa malu, karena sudah “salah sambung. “Pernyataan seperti,” “Tentu saja Mbakyu lupa, mungkin sudah lama sekali, ya tidak ketemu Mas Hassan,” akan membuat orang itu merasa bahwa kita tak terganggu oleh kekeliruannya.

Kalau kita mudah marah atau tersinggung karena masalah sejenis ini, kasihan suami, lho, Bu N. Pasti ia akan sangat harus berhati-hati kalau membawa kita ke lingkungan sosialnya. Seperti umumnya para pria, kalau susah-susah, pasti ia akan memilih, “Ah, biar saja istriku di rumah, daripada dia marah kalau ada temanku yang salah omong.” Akibatnya, kita yang tak punya peluang untuk mengenal dan dikenal oleh teman-temannya. Dan hemat saya, ini lebih tidak enak lagi jadinya. Menurut pengalaman saya, apa yang ada di hati kitalah yang paling penting untuk ditata.

Sejak menikah, saya sudah mengatakan pada diri sendiri, meski anak suami tak memanggil saya IBU tetapi TANTE, ia adalah bagian dari hidup saya sekarang, karena saya menikah dengan ayahnya. Suami saya juga melakukan hal serupa, akan mengatakan anaknya 3 orang bila menghadapi pertanyaan yang sama.

Saya beruntung karena ketiga anak ini manis budi bahasanya dan santun perilakunya, sehingga dapat memberi perasaan nyaman setiap kali saya berinteraksi dengan mereka. Ini membuat tak pernah terbersit di hati ini, anak tiri atau sejenisnya. Anda juga bisa seperti saya, kalau Anda tidak “berhitung” di dalam hati, yang biasanya muncul dalam pernyataan-pernyataan seperti, “Kalau aku baik, dia bagaimana? Tidak fair, dong kalau aku menerima dia, tetapi dia tidak menerima aku!”

Harus ada yang memulai, Bu N, dan akan baik kalau yang memulai adalah kita. Bagaimana reaksinya, itu adalah “rezeki” kita. Bila sepadan, kita beruntung, bila tidak, anggaplah sebagai bagian dari risiko yang harus ditanggung, karena menikah dengan pria yang sudah pernah menikah sebelumnya.

Namun, dari pengalaman saya selama ini, mendahului bersikap positif tanpa harus mengikuti apaah orang lain positif atau negatif pada kita, akan memelihara ketulusan kita dalam berinteraksi. Dan saya yakin, kalau kita tulus dan jujur, orang yang berinteraksi dengan kita pasti akan merasakan pula hal ini.

Nah, mudah-mudahan ada yang bisa Anda ambil dari pengalaman ini. Bicarakan dengan suami, bagaimana Anda berdua menyikapi para anak angkat ini. Jangan lupa, tanyakan apa harapannya dari Anda. Bukankah cinta Anda akan membuat Anda selalu ingin memenuhi harapan suami yang memang bisa Anda penuhi? Salam hangat. 

  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: