Pengalamanku Sebagai Anak Adopsi

Perkenalkan, namaku Bong Tet Po, panggilanku Apo. Aku dibesarkan oleh kedua orangtua angkatku yang  berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat. Aku dibesarkan di Jakarta, tepatnya di Rawa Bebek, Jakarta Utara.
Menurut data yang kudapatkan, aku dilahirkan di Jakarta, 21 November 1980 dengan nama Hari Sugito. Kedua orangtua angkatku mengadopsiku dari RS ATMA JAYA Pluit, Jakarta Utara.
Pada saat itu aku adalah seorang bayi yang sebenarnya menurut kaca mata manusia tidak layak diadopsi. Secara fisik aku tinggal tulang berbalut kulit dan aku terkena kekurangan gizi akut. Namun, ini semua boleh terjadi karena kasih TUHAN. Aku boleh melanjutkan hidupku dengan adanya aku diadopsi oleh pasutri yang telah dipilihNya sebagai kedua orangtuaku.
Saat-saat ketika mereka mengadopsiku, mereka berjumpa dengan ibu kandungku. Ibu kandungku adalah seorang wanita keturunan Tionghoa sama dengan kedua orangtua angkatku. Dialah yang memberi aku nama Hari Sugito. Dan nama itu sampai hari ini masih melekat padaku.
Aku tidak banyak tahu tentang dirinya. Yang jelas, aku sangat sayang dan mencintainya. Dia adalah ibu yang membuat aku ada di dunia. Apapun alasan yang membuatnya berlaku demikian kepadaku, aku menerimanya dengan lapang dada dan senantiasa bersyukur kepada TUHAN. Sedikitpun aku tidak mempersoalkannya.
Inilah suasana pertama ketika aku dibawa pulang oleh kedua orangtua angkatku ke rumah yang ada di Rawa Bebek, Jakarta Utara. Ada banyak orang terperanjat keheranan melihat pasutri yang membawa seorang bayi yang menurut mereka masih ada banyak bayi dunia ini yang lebih pantas dimiliki atau diadopsi. Menurut cerita pamanku, hampir setiap hari tetangga yang datang menengokku, memberikan pernyataan-pernyataan yang tidak baik tentang diriku. Mereka mengatakan sial bagi pasutri ini karena telah mengadopsi anak seperti ini.
Aneh memang, tepatnya kapan aku tidak tahu kapan kejadian ini terjadi. Setelah pasutri ini mengadopsiku datanglah berbagai persoalan kehidupan silih berganti yang sebelumnya tidak pernah mereka hadapi. Ayah angkatku jatuh sakit keras, aku sakit-sakitan dan pamanku kerasukan setan. Dengan adanya kejadian ini, makin bertambahlah orang-orang yang mengatai aku si pembawa sial. Aku sendiri sebenarnya tidak tahu mengenai jati diriku yang sebenarnya kalau bukan pamanku yang bercerita.
Sewaktu aku duduk di bangku SD, ada banyak temanku mengata-ngatai aku anak pungut. Aku sedih ketika mendengar hal itu, ditambah lagi ada orangtua temanku yang juga berkata seperti itu. Anehnya lagi, ketika aku bermain dengan anak-anaknya, aku diusir dan aku dicubit. Ya, mereka tidak suka padaku. Orang ini adalah tetanggaku sendiri. Dan tidak hanya satu orang yang seperti ini padaku.
Kalau dipikir-pikir, apa salahku sama mereka. Aku hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Toh, aku tidak melakukan suatu kejahatan apapun. Aku suka sekali merenung, sebenarnya ada apa denganku? Tidak disangka-sangka aku menjadi anak yang memiliki luka batin yang sangat dalam. Sekian belas tahun lamanya aku dihina-hina dan dikata-katai orang anak pungut, anak haram. Pada akhirnya, diusiaku yang menjelang 17 tahun, aku tahu tentang semua kebenaran ini. Inipun bisa terkuak karena adanya peristiwa yang berkaitan dengan perjalananku di dunia roh. Selengkapnya bisa dibaca di karya tulisku yang berjudul  
Kami tinggal di Rawa Bebek kurang lebih 12 tahun. pada tahun 1992, kami pindah ke Perumahan Poris Indah, Jl. Asoka N0.187, Tangerang. Dan sampai saat ini kami masih tinggal disana. Apa yang saya ceritakan ini adalah sebuah kisah nyata tanpa rekayasa atau didramatisir. Aku bersyukur punya orangtua angkat yang begitu amat sangat baik padaku. Mereka sudah berjuang dengan gigih dalam membesarkan, memelihara dan menghidupiku. mereka benar-benar luar biasa, Mereka sama sekali tidak termakan omongan orang lain yang berupaya menghasut mereka perihal keberadaanku sebagai anak adopsi.
Memang benar, mereka sudah banyak berkorban dalam menghidupiku, seorang bayi yang tidak sehat menjadi seorang anak yang bisa ada hari ini. Aku juga bersyukur dan berterimakasih kepada kedua orangtua kandungku yang telah membuat aku ada di dunia, meskipun aku tidak tahu siapa mereka dan dimana keberadaan mereka.
Terimakasih juga tidak lupa kuucapkan kepada orang-orang yang notabene tetanggaku yang ada di Rawa Bebek yang telah berlaku tidak baik kepadaku. Ya, dengan mengatai-ngatai anak kecil yang lugu dan polos, yang tidak tahu apa-apa dengan segala kata yang menyakitkan. Terimakasih semuanya.
Terlebih lagi terimakasih kuucapkan kepada TUHAN yang telah menciptakan aku di dunia ini. Aku yang seharusnya tidak ada di dunia ini menjadi ada karena rencanaNya yang sempurna. Segala sesuatu baik adanya.
  1. Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: